Ada satu pertanyaan di ruang konferensi pers Istanbul yang disusun rapi seperti tuduhan. Roma tampil sangat baik di babak pertama, lalu memulai babak kedua dengan sedikit kekacauan, dan kekacauan itu langsung dibayar. Melawan Atalanta akhir pekan lalu mereka kebobolan di menit ke-47. Malam itu di kandang Fenerbahce, di menit ke-48. Dua petunjuk, kata si penanya, apakah itu sudah jadi bukti?
Gian Piero Gasperini menjawabnya sambil tertawa. Menurut catatan Corriere dello Sport, ia lebih dulu mengulang pepatahnya sendiri, dua petunjuk sudah jadi bukti, sebelum menolak menandatangani kesimpulan itu.
“Tidak semua hal bisa dijelaskan di sepak bola. Kadang ada juga faktor kebetulan, kadang mungkin ini sesuatu yang harus kami waspadai mulai laga berikutnya. Awal babak kedua, dalam dua pertandingan terakhir ini, jelas membuat kami kehilangan satu gol, padahal sebaliknya justru membuat kami punya risiko yang lebih kecil.”
— Gian Piero Gasperini, AS Roma
Ditanya siapa yang paling bertanggung jawab atas gol tersebut, ia menolak menunjuk satu nama.
“Kalau kebobolan itu juga salah orang lain, tapi jelas kami membuat kesalahan dan mereka juga bagus. Lalu kami mengulanginya di kesempatan lain, kami lebih banyak membuat kesalahan ketika kami berdiri dalam formasi. Ada momen-momen dalam laga ketika kami lebih rentan.”
— Gian Piero Gasperini, Tuttomercatoweb
Pers Italia tidak sesungkan itu. Dalam ulasannya, La Gazzetta dello Sport menyebut nama pelakunya secara terbuka, bahwa Gianluca Mancini salah keluar dan Archie Brown memanfaatkan umpan Mason Greenwood dengan sempurna lewat sentuhan cungkil melewati Mile Svilar. Greenwood, kebetulan, adalah pemain yang namanya sempat ditanyakan kepada Mario Hermoso di konferensi pers sehari sebelumnya.
Yang dijelaskan Gasperini lebih rinci justru bentuk kesalahannya, bukan waktunya. Gol Fenerbahce lahir dari cara Roma keluar dari tekanan, dan menurutnya masalah itu punya pola tersendiri yang lebih spesifik daripada sekadar menit keberapa.
“Kami keluar dengan buruk, jelas, tapi kali ini itu lebih sering terjadi ketika kami berada di posisi rendah, hampir dalam formasi bertahan, dibanding ketika kami bermain di area pertahanan lawan. Jelas ini sesuatu yang harus kami kerjakan, karena tidak selalu bisa bermain begitu, terutama di laga seperti ini dan di kompetisi ini, kadang Anda juga harus berdiri lebih rendah. Itu jelas kesalahan saat keluar dari tekanan.”
— Gian Piero Gasperini
Pengakuan itu penting karena menyentuh titik lemah yang berbeda dari yang biasanya dibicarakan soal tim Gasperini. Tim-timnya dikenal nyaman menekan tinggi dan memenangkan bola di area lawan. Yang ia sebut di Istanbul adalah kebalikannya, yaitu momen ketika timnya harus duduk lebih dalam, dan justru di situ jalan keluarnya belum bersih.
Malam itu Fenerbahce memang bermain sesuai kelemahan tersebut. Meski berstatus tuan rumah, mereka menutup diri rapat-rapat dan mengandalkan serangan balik dengan beberapa pemain berkecepatan tinggi, sebuah pendekatan yang memaksa Roma lebih sering memegang bola di area yang tidak mereka inginkan.
Roma sendiri sudah unggul lewat Bryan Cristante di menit ke-39 dari umpan Donyell Malen. Gol balasan Archie Brown datang tiga menit setelah pertandingan dimulai kembali, dan skor tidak berubah sampai akhir. Satu poin dibawa pulang dari Istanbul.
Svilar sendiri menaruh gol itu berdampingan dengan penyelamatan terbaiknya malam itu, dan penjelasannya sangat teknis.
“Mungkin yang satu lawan satu dengan Muriqi adalah penyelamatan paling sulit. Saya mencoba melakukan hal yang sama saat gol itu, tapi sayangnya saya tidak berhasil bertahan sedikit lebih tinggi. Tapi tidak masalah, kami melanjutkan dengan hasil imbang ini.”
— Mile Svilar, Tuttomercatoweb
Jadwal berikutnya tidak memberi banyak waktu untuk memperbaikinya di ruang kelas. Gasperini menyebut hal itu harus sudah menjadi perhatian sejak laga berikutnya, dan Roma kembali ke Serie A dengan modal kemenangan dramatis atas Atalanta, pertandingan yang menyumbang setengah dari bukti yang tadi disodorkan kepadanya.