Ini bukan Liga Champions pertama bagi Gian Piero Gasperini. Ia sudah menangani 34 laga di kompetisi ini sebagai pelatih, sebagian besar bersama Atalanta yang ia bawa ke panggung tersebut untuk pertama kali dalam sejarah klub. Wajar kalau salah satu pertanyaan di ruang konferensi pers menyinggung kemiripan antara dua proyek itu.
Jawabannya justru menolak kemiripan tersebut, lalu menyisipkan satu peringatan.
“Di sini kami punya pemain yang sudah pernah bermain di sepak bola Eropa dan di Liga Champions sebelumnya. Untuk Atalanta itu benar-benar yang pertama kali. Roma memang belum bermain di Liga Champions selama beberapa musim, tapi mereka rutin tampil di Liga Europa. Meski begitu, Anda harus mewaspadai dampak awal yang bisa ditimbulkan kompetisi ini, terutama di laga pertama.”
— Gian Piero Gasperini, AS Roma
Ada satu faktor tambahan yang membuat malam ini sulit dibaca kedua belah pihak. Roma dan Fenerbahce belum pernah bertemu sebelumnya, dan menurut Gasperini ketiadaan riwayat itu menambah elemen yang sama asingnya bagi tuan rumah maupun tamunya.
Ditanya seberapa penting pengalaman di kompetisi seperti ini, ia menjawabnya lebih sebagai kepuasan pribadi daripada sebagai senjata taktis.
“Ini memberi saya kepuasan besar bisa membawa Roma kembali ke Liga Champions. Di sini Anda bisa melihat sejauh mana Anda diukur melawan tim-tim terbaik dari berbagai negara dan pemain-pemain hebat yang bisa mengubah laga dalam sekejap. Yang paling penting adalah tetap berada di dalam permainan setiap saat dan benar-benar percaya pada kemampuan sendiri.”
— Gian Piero Gasperini
Di kalimat yang sama ia menjawab pertanyaan yang belum sempat diajukan, soal apakah susunan pemainnya akan berubah. Menurutnya rotasi adalah keharusan ketika laga datang beruntun, dan musim ini ia merasa punya lebih banyak pemain yang bisa tampil reguler tanpa penurunan kualitas. Itu perbedaan penting dari musim-musim sebelumnya.
Soal kondisi skuad, kabarnya menyenangkan. Gasperini menyebut semua orang dalam keadaan baik dan hanya Lorenzo Pellegrini yang belum siap kembali. Ia juga menegaskan kemenangan dramatis atas Atalanta di menit-menit akhir memang jadi dorongan besar untuk semua orang, tapi itu sudah lewat dan timnya punya beberapa hari untuk memulihkan diri.
Bahan bacaannya soal lawan pun tidak sedikit. Fenerbahce baru saja kalah dari Besiktas asuhan Vincenzo Italiano, dan Gasperini mengaku menonton laga itu sekaligus pertandingan mereka melawan Lyon dan Sturm Graz. Ia berusaha melihat tim ini dan para pemainnya sebanyak mungkin, dan kesimpulannya tidak berubah, Fenerbahce tetap tim papan atas terlepas dari hasil terakhir mereka di liga.