Gasperini Sebut Dybala Terkuat, Kone Keluar karena Masalah Fisik

UEFA Champions League

Gasperini Sebut Dybala Terkuat, Kone Keluar karena Masalah Fisik

Pasca imbang lawan Fenerbahce di UCL

Ada satu pujian dari Gian Piero Gasperini yang tidak biasa ia berikan, karena bentuknya perbandingan langsung di dalam ruang gantinya sendiri. Ditanya apakah ia menyukai penampilan Paulo Dybala di Istanbul, jawabannya tidak berhenti di kata bagus.

“Dybala luar biasa dalam hal konsistensi dan kualitas. Saya kesulitan mengingat bola yang dia hilangkan, lalu dia kram dan mungkin bukan dia satu-satunya. Di antara begitu banyak pemain kuat, dia yang terkuat.”

— Gian Piero Gasperini, Tuttomercatoweb

Bagian terakhir kalimat itu yang paling berbobot. Skuad Roma musim ini diisi nama-nama yang oleh Gasperini sendiri disebut membuatnya bisa merotasi tanpa penurunan kualitas, dan di tengah semua itu ia tetap menaruh Dybala di puncak.

Tapi di kalimat yang sama ada kata yang menjelaskan arah pertandingan malam itu, yaitu kram. Dan menurut Gasperini, Dybala mungkin bukan satu-satunya yang mengalaminya.

Beban fisik itu punya wujud kedua yang lebih tegas. Manu Kone, gelandang yang menopang lini tengah Roma sepanjang babak pertama, ditarik keluar delapan menit setelah jeda dan digantikan Niccolo Pisilli. Alasannya bukan taktik.

“Kone keluar karena masalah fisik. Dia memang tidak ada di babak kedua, tapi mungkin kami akan menderita sama saja. Di babak kedua laganya jadi lebih sulit, kami nyaris kebobolan penalti. Tidak cuma tergantung Kone, karena Pisilli tampil bagus dan akhirnya kembali.”

— Gian Piero Gasperini

Jawaban itu menjawab sesuatu yang sedang diperdebatkan. Dalam ulasannya, La Gazzetta dello Sport menilai Roma bertahan dengan baik selama Kone ada di lini tengah dan mulai menderita hebat setelah ia tidak ada, menyebut penampilan gelandang Prancis itu megah dengan tumpukan bola rebutan dan intersepsi. Gasperini tidak membantahnya sepenuhnya, ia hanya menolak menjadikannya penjelasan tunggal.

Ada satu detail kronologi yang penting di sini. Gol penyama kedudukan Archie Brown datang di menit ke-48, sedangkan Kone ditarik sekitar menit ke-53. Artinya keluarnya Kone tidak menjelaskan gol tersebut, hanya menjelaskan tekanan yang datang sesudahnya.

Tekanan itu memang nyata. Fenerbahce beberapa kali mendekati gol kedua, termasuk lewat Muriqi yang gagal memanfaatkan situasi satu lawan satu dengan Mile Svilar, dan di menit-menit akhir sundulan Ake membentur mistar ketika Svilar sudah terlewati.

Di sisi lain, Roma juga punya keluhan sendiri. Gazzetta mencatat Gil Manzano sempat menunjuk titik penalti setelah Akturkoglu menjatuhkan Dybala di tepi kotak, lalu berubah pikiran, kemungkinan atas saran VAR, dan hanya memberi tendangan bebas dari batas kotak. Dua tuntutan penalti lain untuk Dybala dan Wesley juga dinilai terjadi di luar area.

Malam itu berakhir 1-1, dengan gol Bryan Cristante di menit ke-39 sebagai satu-satunya balasan Roma. Dalam pembacaan Gasperini, pemain terbaiknya tampil nyaris tanpa cela sampai kakinya sendiri berhenti bekerja sama, dan gelandang yang menahan lini tengahnya harus pergi lebih awal karena alasan yang sama.

Berita lain dari laga ini