AC Milan menundukkan Venezia 2-0 di San Siro pada pekan kedua Serie A dan menggenapi enam poin dari dua laga pertama. Gonçalo Ramos membuka skor setelah menerima umpan Alexis Saelemaekers, sementara gol kedua lahir pada menit ke-89 ketika sepakan Ardon Jashari yang ditepis Filip Stankovic membentur Redouane Halhal dan masuk ke gawang yang sudah kosong.
Ini laga kandang pertama Ruben Amorim sebagai pelatih Milan, sekaligus laga kompetitif pertamanya bersama Rossoneri tanpa kebobolan. Yang ia bawa ke sesi wawancara justru bukan daftar capaian itu, melainkan daftar pekerjaan.
“Kami punya lebih banyak peluang untuk mencetak gol, tapi kami tidak pernah menguasai bola dalam periode yang panjang, kami tidak pernah menenangkan laga, dan itu sedikit yang diinginkan Venezia. Kami mengelola beberapa hal dengan baik, laga ini menunjukkan kami punya banyak pekerjaan, tapi kami menang dan itu yang penting.”
— Ruben Amorim, football-italia
Kekhawatirannya beralasan. Sebelum Milan mencetak gol, Venezia dua kali melewatkan peluang bersih di kotak penalti, dan Ché Adams beberapa kali lolos ke ruang terbuka lewat serangan balik. Amorim menyebut pola itu sebagai konsekuensi langsung dari cara timnya menyerang, bukan sebagai kesalahan individu satu-dua pemain.
“Kami ingin maju, kami meninggalkan separuh lapangan kami benar-benar terbuka, kami menjaga satu lawan satu, jadi pekerjaan kami masih banyak.”
— Ruben Amorim
Bagian yang paling spesifik dari kritiknya tertuju pada bek-bek tengah. Menurut Amorim, saat timnya sedang menguasai bola, para pemain belakang seharusnya sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan kehilangan bola, bukan ikut menikmati serangan yang sedang berjalan di depan mereka.
“Kadang mereka hanya menonton permainan, seperti penonton yang menunggu apa yang terjadi di depan mereka.”
— Ruben Amorim
Di ruang konferensi pers, ia melanjutkan hitung-hitungannya dengan lebih dingin. Amorim menilai jumlah peluang yang ia berikan ke lawan pada akhirnya akan berubah menjadi gol, dan ketika itu terjadi, situasinya jauh lebih sulit dibalik. Ia juga menyebut cara timnya mengantisipasi umpan silang ke kotak penalti sebagai satu lagi detail yang butuh waktu latihan, bukan sekadar peringatan verbal.
Meski begitu, ia tidak membingkai laga ini sebagai kemunduran. Amorim menyebut Venezia sebagai lawan yang memang sulit di San Siro, tim yang banyak merotasi pemain, mau memegang bola, dan mendapat keuntungan dari tekanan tribun tuan rumah yang menuntut gol cepat. Ia juga menyinggung beban bermain di stadion itu, tempat penontonnya menyimpan ingatan tentang tim-tim besar Milan di masa lalu.
“Kadang kemenangannya tidak begitu indah, tapi itu penting untuk perjalanan kami.”
— Ruben Amorim
Perjalanan itu berlanjut ke tempat yang jauh lebih berat pekan depan: lawatan ke markas Juventus. Milan mendatanginya dengan poin penuh dan seorang pelatih yang sudah mengumumkan sendiri apa saja yang belum beres.