Selama satu jam pertama, laga kandang pertama Gonçalo Ramos untuk Milan berjalan seperti mimpi buruk. Penyerang yang datang dari Paris Saint-Germain sebagai rekrutan termahal dalam sejarah klub itu berkali-kali lolos ke situasi bersih menghadapi Filip Stankovic, dan berkali-kali gagal menyelesaikannya. Ada tembakan yang tersangkut kaki kiper, ada umpan silang yang tidak ia sentuh dengan benar, ada pula sundulan di tiang jauh yang seharusnya lebih terarah.
Golnya baru datang setelah laga melewati waktu satu jam, lewat umpan Alexis Saelemaekers yang ia sambut dengan sentuhan pertama dari sisi kiri kotak penalti. Ruben Amorim tidak menyoroti peluang-peluang yang terbuang itu, melainkan cara pemainnya menyikapinya.
“Cara dia tidak mencetak gol dari peluang-peluang besar itu, lalu dia tetap tenang di yang ketiga dan bebas untuk mencetak gol. Itu menunjukkan dia pemain berpengalaman, dia tidak memikirkan peluang yang terbuang, dia memikirkan yang berikutnya.”
— Ruben Amorim, football-italia
Ditanya apakah ada yang ia sampaikan kepada Ramos saat jeda, Amorim menjawab tidak ada. Ia menempatkan ketenangan pemainnya sebagai bukti rekam jejak, dan secara khusus menyebut gelar-gelar yang sudah dikumpulkan Ramos di Prancis.
“Dengan Gonçalo Ramos, di sinilah kamu melihat pemain-pemain hebat, dan saya menyebutnya karena dia sudah memenangi segalanya di PSG. Ramos gagal di dua peluang, tapi di yang ketiga dia tetap tenang: dia tidak memikirkan kesalahan yang sudah ia buat sebelumnya.”
— Ruben Amorim, Milan Reports
Amorim menambahkan bahwa ia sudah yakin peluang berikutnya akan berbuah gol, dan menyebut kerja Ramos sepanjang laga sebagai sesuatu yang luar biasa. Penilaian itu sejalan dengan cara ia menjelaskan fungsi penyerangnya, yang menurutnya tidak berhenti pada urusan mencetak angka.
“Tentu dia striker, kami membayar banyak uang karena dia mencetak gol, tapi cara dia bermain, bekerja, menghubungkan permainan, itu berarti banyak. Kadang kelihatannya kami punya dua orang yang memecah garis pertahanan, padahal itu cuma Gonçalo Ramos.”
— Ruben Amorim
Catatan malam itu memang mendukung pembacaan tersebut. Selain golnya sendiri, Ramos ikut terlibat di gol kedua Milan lewat bola yang ia lepas ke Saelemaekers sebelum Ardon Jashari menusuk dan sepakannya berbuah gol bunuh diri Redouane Halhal. Dua gol Milan malam itu sama-sama melewati kakinya, meski hanya satu yang tercatat di namanya.