Ditanya apakah masalah Milan di Allianz Stadium terletak pada konsep yang belum terserap atau pada kualitas teknis pemainnya, Rúben Amorim menolak kedua pilihan yang ditawarkan itu. Ia menunjuk sesuatu yang jauh lebih mendasar, dan justru karena itu lebih tidak nyaman untuk didengar.
“Kami punya kualitas individu. Hari ini yang kurang justru hal-hal sederhana: di sepak bola, yang sederhana justru yang paling ampuh.”
— Rúben Amorim, Milan Reports
Yang ia maksud bukan kiasan. Amorim merinci sampai ke cara pemainnya menerima dan mengumpan bola, dan menyebut Milan berkali-kali kehilangan bola di babak pertama tanpa berada di bawah tekanan lawan sama sekali. Dari situ, menurutnya, kepercayaan diri tim ikut runtuh, dan permainan mereka menurun mengikuti.
Menarik, kesimpulan sekeras itu tidak membuatnya bergeser satu langkah pun. Amorim justru memakainya untuk menegaskan bahwa pendekatannya tetap, sekaligus menerima konsekuensinya secara terbuka di depan publik Italia.
“Kami tidak akan mengubah cara kami bermain, karena kami tahu akan ada laga di mana kami tampil bagus, dan ada yang tidak.”
— Rúben Amorim
Ia juga membantah kesan bahwa Milan sengaja turun dan menunggu setelah unggul lewat Cisse. Dorongan Juventus di menit-menit akhir memang membuat timnya terdesak, kata Amorim, tapi terdesak dan memilih bertahan adalah dua hal yang berbeda.
“Bertahan total tidak akan pernah jadi rencana kami. Kami hanya harus paham kapan dan bagaimana bertahan.”
— Rúben Amorim, Gianluca Di Marzio
Dari situ tuntutannya jadi konkret. Menurut Amorim, Milan terus-menerus mengambil risiko dalam penguasaan bola, dan yang harus dilatih ada tiga sekaligus: cara bermain dengan bola, cara bertahan dengan bola, dan cara menjadi lebih agresif saat bergerak ke arah gawang. Syaratnya cuma satu, dan ia menyebutnya tanpa melunakkan bahasanya.
“Kalau kami mau menguasai bola, kami harus berani. Saya menuntut lebih, dan mereka juga menginginkan lebih.”
— Rúben Amorim, La Gazzetta dello Sport
Ia menambahkan bahwa dirinya tidak ingin terdengar terlalu negatif terhadap para pemainnya, kehati-hatian yang muncul berulang kali malam itu. Posisi yang ia ambil memang tidak nyaman: menolak menyalahkan pemain, menolak mengubah cara main, tapi juga menolak menerima level yang baru saja ia saksikan sendiri.
Ujiannya datang cepat. Milan bertandang ke markas Lazio pada Sabtu, dan pertanyaan yang sama akan menunggu di sana kalau hal-hal dasar yang ia keluhkan belum berubah.