Amorim Rem Puja-puji untuk Cisse Seusai Golnya di Turin

Serie A

Amorim Rem Puja-puji untuk Cisse Seusai Golnya di Turin

Sang wonderkid masuk menit 61, mencetak gol menit 68

Alphadjo Cisse masuk pada menit ke-61 dan mencetak gol tujuh menit kemudian, menuntaskan umpan Samuel Chukwueze dengan tembakan ke tiang jauh yang melewati Guglielmo Vicario. Itu gol liga keduanya musim ini dan, seperti dicatat laporan resmi Milan, keduanya ia buat di Turin: yang pertama saat debutnya melawan Torino.

Pemain 19 tahun yang mencetak gol di laga besar pertama musim biasanya jadi cerita yang gampang dijual. Rúben Amorim justru menghabiskan bagian terbesar konferensi persnya untuk mengerem cerita tersebut, dan ia melakukannya tanpa mengurangi pujian atas golnya.

“Dia punya banyak kualitas, tapi dia butuh waktu. Ada hal-hal yang belum siap ia lakukan di momen tertentu.”

— Rúben Amorim, Milan Reports

Ditanya apakah lebih baik Cisse tetap di tim U-21 daripada langsung naik ke timnas senior Italia milik Roberto Mancini, Amorim menolak masuk ke perdebatan itu sama sekali. Ia menyebutnya urusan pelatih timnas, bukan urusannya, dan menegaskan tak punya pendapat apa pun soal itu. Sikap menahan diri yang tidak lazim, mengingat pelatih klub biasanya senang memasang nama pemainnya di percakapan timnas.

Yang ia bersedia bicarakan justru jarak antara satu gol dan status pemain top. Di sini kalimatnya paling keras, sekaligus paling jelas ditujukan ke luar ruang ganti, ke arah orang-orang yang sedang merayakan pemainnya.

“Orang hanya melihat golnya. Saya melihat banyak hal yang harus ia perbaiki untuk jadi pemain top. Dan untuk bisa main buat timnas negaramu, kamu harus benar-benar kuat.”

— Rúben Amorim

Alasan di balik sikap itu ia sebut terus terang: menurutnya sepak bola hari ini punya kecenderungan meniup nama pemain terlalu cepat, dan Cisse baru berada di awal kariernya. Karena itu ia meminta tekanan tidak ditumpuk ke pemain yang baru berusia 19 tahun, sambil mengakui perkembangannya memang berlangsung sangat cepat.

Supaya tidak terbaca dingin terhadap pemain yang baru menyelamatkan satu poin untuknya, Amorim menyeimbangkan posisinya di akhir, sekaligus menutup peluang terbentuknya anak emas di skuadnya.

“Saya sayang dia, tapi saya sayang semua pemain saya. Saya harus hati-hati mengatur porsi mainnya, dan saya senang dengan golnya.”

— Rúben Amorim, Gianluca Di Marzio

Malam di Turin sebetulnya memberi Amorim bahan sempurna untuk menjual satu nama baru. Ia memilih melakukan hal sebaliknya.

Berita lain dari laga ini