Milan memimpin di Allianz Stadium sejak menit ke-68 lewat gol Alphadjo Cisse dan kehilangan tiga poin itu pada menit ke-92, saat Federico Gatti menyundul umpan silang Teun Koopmeiners. Situasi seperti ini biasanya melahirkan keluhan soal nasib atau menit tambahan. Rúben Amorim memilih arah yang berlawanan dan menutup ruang perdebatan itu di kalimat pertamanya.
“Kami tidak layak menang. Kalau mau jujur, saya pikir Juventus tidak layak kalah.”
— Rúben Amorim, Milan Reports
Penjelasannya berpusat pada satu hal: penguasaan bola yang tidak bertahan lama. Amorim mengakui babak pertama sempat berjalan sesuai rencananya, sebelum timnya terlalu sering kehilangan bola, dan kehilangan kendali atas laga bersamaan dengan itu.
“Ada momen ketika kami mengendalikan laga di babak pertama, tapi begitu kami mulai sering kehilangan bola, kami langsung keteteran.”
— Rúben Amorim
Konsekuensinya terasa di fase bertahan menjelang akhir. Juventus menumpuk pemain menyerang di menit-menit terakhir, memasukkan Koopmeiners, lalu Nick Woltemade, dan akhirnya Gatti yang dipasang di kotak penalti. Milan tidak sanggup merebut bola untuk memutus tekanan itu, dan Amorim menyebut justru di titik itulah timnya paling kepayahan, bukan saat bertahan di dalam kotak.
“Kami benar-benar kewalahan saat tidak menguasai bola dan tidak berhasil merebutnya kembali. Di situ kami harus berhadapan dengan banyak penyerang yang dikirim Juventus ke lapangan.”
— Rúben Amorim, Gianluca Di Marzio
Satu-satunya pembelaan yang ia pakai bukan wasit atau kesialan, melainkan umur tim ini. Kalimat soal dua bulan kerja bersama itu ia ulang beberapa kali malam itu, di dua sesi wawancara yang berbeda, dan selalu digandengkan dengan permintaan waktu, bukan dengan penyangkalan.
“Saya tidak merasa kami bermain bagus, tapi kami baru bekerja bersama dua bulan. Kami butuh waktu.”
— Rúben Amorim, Milan Reports
La Gazzetta dello Sport menilai penampilan Milan justru bergerak menurun sepanjang tiga pekan pertama: bertenaga saat membuka musim melawan Torino, tidak konsisten melawan Venezia, dan nyaris tak terlihat di Turin selain golnya. Dengan pembacaan seperti itu, kesimpulan Amorim sendiri terdengar paling masuk akal di antara semua penjelasan yang tersedia.
Milan tetap tak terkalahkan dengan tujuh poin dari tiga laga, dan akan bertandang ke markas Lazio pada Sabtu.