Pertanyaan yang biasanya bikin pelatih defensif justru dijawab Ruben Amorim dengan mengiyakan. Apakah kehadiran Luka Modric membuat Milan menekan lebih sedikit? Ya, kata dia, dan itu memang pilihannya.
“Itu penalaran yang masuk akal, tim harus belajar berlama-lama menguasai bola. Saat kami menguasai bola, kami bisa mengaturnya lebih baik dengan Modric di lapangan.”
— Ruben Amorim, Milannews24
Bagian berikutnya yang membuat jawaban ini lebih dari sekadar pembelaan untuk satu pemain. Amorim menyebutnya sebagai pesan resmi ke ruang ganti.
“Saya lihat lawan Juventus pressingnya berkurang. Di satu sisi ada yang hilang, di sisi lain ada yang didapat. Ini pesan yang ingin saya sampaikan ke para pemain, saya lebih memilih pressing lebih sedikit tapi penguasaan bola lebih banyak. Saya ingin tim yang bisa mendominasi dengan penguasaan bola.”
— Ruben Amorim
Kalimat itu menarik karena bertabrakan dengan reputasi yang dibawa Amorim ke Italia, yaitu pelatih yang timnya menekan tinggi dan bermain vertikal. Sekarang ia justru meminta pemainnya menahan bola lebih lama. Tiga laga pertamanya berakhir dengan kemenangan atas Venezia dan Torino sebelum ditahan Juventus, dan yang terakhir itu yang paling banyak ia bedah.
Ia tidak menyangkal bahwa hasil 1-1 di Allianz Stadium jauh dari memuaskan, dan menunjuk penyebabnya sendiri.
“Kami kekurangan banyak energi saat lawan Juventus. Kami kurang di 30 meter terakhir pada babak pertama. Saya tunjukkan rekamannya ke para pemain untuk memperlihatkan bahwa banyak peluang Juventus lahir dari kesalahan kami.”
— Ruben Amorim
Amorim juga menolak dibandingkan dengan Cesc Fabregas dan Como, yang cara bermainnya banyak dipuji di Italia. Menurut dia, kalau memang ingin bermain seperti Como, yang harus direkrut adalah pelatih Como. Ia mengaku suka mencuri satu dua gagasan, tapi menegaskan tidak menyalin siapa pun dan punya identitasnya sendiri, lalu menutupnya dengan mengatakan penilaian yang sebenarnya baru bisa dilakukan di akhir musim atau bahkan di akhir sebuah siklus.
Soal berapa lama proses ini butuh waktu, ia memakai perumpamaan yang ia akui sendiri kurang enak, yaitu investigasi kecelakaan pesawat, di mana banyak informasi dikumpulkan justru untuk memperbaiki yang berikutnya. Ujian nyatanya, kata dia, adalah laga malam ini di Olimpico.