Lazio sudah unggul 2-0 sebelum jam pertandingan menyentuh angka 40. Matteo Cancellieri membuka skor pada menit ke-10 lewat umpan Mattia Zaccagni, lalu Tijjani Noslin menggandakannya pada menit ke-39. Milan baru menyamakan kedudukan di babak kedua, dan keduanya datang dalam rentang dua menit dari kaki Diego Moreira, pada menit ke-65 dan ke-67.
Yang menarik, Ruben Amorim menolak membingkai malam itu sebagai kisah kebangkitan. Ia justru mulai dari hitung-hitungan poin yang hilang.
“Semua orang di stadion sadar ini seperti dua pertandingan, dua pertandingan yang berbeda. Saya tidak tahu kami pantas dapat lebih banyak poin karena babak kedua, atau justru lebih sedikit karena babak pertama. Menurut saya, pada akhirnya kami kehilangan dua poin karena cuma bermain satu babak, dan itu benar-benar membuat frustrasi.”
— Ruben Amorim, Milannews24
Ia menolak juga pemisahan babak pertama dan babak kedua sebagai dua wujud tim yang berlainan, dengan alasan yang sederhana. Sebagian besar pemain yang tampil buruk di 45 menit pertama adalah pemain yang sama yang tampil bagus setelahnya.
“Ini bukan dua tim, ini bukan dua pertandingan, ini pertandingan yang sama, jadi saya benar-benar frustrasi. Tentu saya sangat suka cara kami bermain di babak kedua, semangatnya sama sekali berbeda, energinya sama sekali berbeda. Sempat terlihat seperti tim lain, tapi pada akhirnya kami tim yang sama.”
— Ruben Amorim
Ditanya kapan persisnya ia merasa harus mengubah sesuatu, Amorim tidak menunjuk satu momen. Ia menyebut angka yang jauh lebih awal dari yang diperkirakan, lima menit. Menurutnya Milan sebetulnya memulai laga dengan cukup baik dan bahkan sempat punya satu peluang, tapi sesudah itu ia sudah tahu timnya harus mengubah sesuatu atau akan menderita sepanjang sore.
“Sulit menyebut satu momen yang persis. Saya merasakannya, dan saya kira semua orang di stadion juga merasakannya di lima menit pertama, bahwa mereka bermain di kecepatan yang berbeda. Setelah lima menit saya sudah tahu mereka lebih lapar daripada kami.”
— Ruben Amorim
Dukungan atas penilaiannya itu datang dari ruang ganti sendiri, dan Amorim menyebutnya sebagai satu-satunya hal yang ia anggap positif dari sisi non-teknis. Mario Gila berbicara kepada DAZN beberapa menit sebelumnya dengan nada yang nyaris sama kerasnya. Bek Milan itu menilai timnya baru mengerti siapa mereka sesudah jeda, dan menganggap Milan pantas mendapat lebih dari satu poin kalau yang dihitung cuma 45 menit terakhir.
“Di babak pertama kami sejujurnya berantakan. Kami bukan Milan yang kami inginkan. Kami kehilangan terlalu banyak bola. Kalau kami bagus dalam menguasai bola, kami termasuk tim terkuat di liga ini.”
— Mario Gila, Pianeta Milan
Bagi Amorim, kesamaan diagnosis itu punya nilai praktis. Selama pemainnya melihat masalah yang sama dengan yang ia lihat, pembenahannya bisa dimulai dari titik yang sama pula, dan bukan dari perdebatan soal apakah babak pertama itu benar-benar seburuk kelihatannya.
Amorim mengaku senang mendengarnya, karena artinya keluhannya tidak berhenti di meja konferensi pers. Ia menutup bagian itu dengan pengakuan soal posisi Milan saat ini, bahwa Olimpico memang lapangan yang sulit dan Turin juga begitu, tapi timnya semestinya sudah mengumpulkan lebih banyak poin daripada yang mereka punya sekarang.
Perubahan yang ia lakukan saat jeda memang berbuah. Tiga pemain masuk sekaligus dan gol pertama Moreira lahir dari umpan Christian Pulisic, salah satu dari tiga nama itu. Tapi Amorim jelas tidak menganggap 45 menit terakhir sebagai jawaban, melainkan sebagai bukti bahwa 45 menit pertamanya tidak punya alasan.