Sindiran Cristian Chivu yang mempertanyakan apakah Juventus dan Milan masih layak disebut lawan penentu setelah finis jauh musim lalu tak hanya sampai ke Rúben Amorim, tetapi juga ke Luciano Spalletti. Bedanya, pelatih Juventus itu memilih tak terpancing sama sekali.
Alih-alih membalas dengan nada tinggi, Spalletti justru memuji keterusterangan Chivu. Baginya, komentar semacam itu adalah bentuk kejujuran yang ia hargai.
“Menurut saya Chivu mengatakan apa yang ia pikirkan, ia tulus. Saya suka orang yang jujur.”
— Luciano Spalletti, Corriere dello Sport
Lebih dari sekadar menerima, Spalletti mengubah sindiran itu jadi bahan bakar. Ia mengakui Juventus memang punya pekerjaan besar untuk kembali menyaingi tim-tim terbaik, dan menjadikan omongan Chivu sebagai salah satu pemicunya.
“Kata-katanya harus jadi pemicu, meski itu satu-satunya pemicu, karena kami ingin berusaha maksimal mengecilkan jarak dengan tim-tim terkuat di liga.”
— Luciano Spalletti
Respons itu memperlihatkan sikap yang berbeda dari kubu Milan. Jika Amorim menanggapinya dengan nada menohok ke dalam, Spalletti memilih jalur dewasa, mengakui posisi Juventus apa adanya sembari menjadikannya motivasi. Kini keduanya akan menuntaskan perang kata-kata itu di atas lapangan Allianz Stadium.