Juventus tertinggal lebih dulu lewat gol Alphadjo Cisse pada menit ke-68 dan baru menyamakan kedudukan di menit ke-92 lewat sundulan Federico Gatti. Seusai laga, Luciano Spalletti sama sekali tidak menyinggung keberuntungan menit akhir itu. Yang ia bahas justru cara timnya menjalani 90 menit sebelumnya, dan penilaiannya terbelah rapi jadi dua bagian: niat yang ia puji, eksekusi yang ia bongkar.
Bagian pertama soal intensitas. Menurut Spalletti, Juventus memang berhasil memaksakan tempo dan menekan tanpa jeda sejak kedudukan masih 0-0, jadi kerangka permainannya sudah sesuai rencana.
“Kami yang mendikte jalannya laga, kami terus menekan tanpa henti. Niat kami sudah benar, tapi jelas kami harus memperbaiki pilihan-pilihan yang kami ambil.”
— Luciano Spalletti, Juventus.com
Bagian kedua jauh lebih keras, dan ini yang jadi pesan utamanya. Bagi Spalletti, kekurangan Juventus di laga sebesar ini bukan soal kemampuan teknis, melainkan soal keberanian mengambil inisiatif tanpa menunggu lawan lebih dulu membuka ruang.
“Di pertandingan seperti ini kamu tidak perlu bilang permisi, kamu tidak menunggu diundang. Kamu harus maju dan mengambil apa yang memang harus kamu ambil.”
— Luciano Spalletti
Titik kegagalannya ia tunjuk dengan spesifik: sepertiga akhir lapangan. Juventus berkali-kali sampai di posisi yang benar, lalu berhenti tepat sebelum menembus. Spalletti menolak menyebutnya sebagai masalah besar dan justru mengecilkannya sampai ke ukuran yang nyaris remeh.
“Kami cuma butuh bola lima sentimeter lebih tinggi, atau di kaki kanan bukan kaki kiri. Detail-detail kecil seperti itulah yang menentukan.”
— Luciano Spalletti, Football Italia
Angka pendukungnya tidak seramah penjelasan itu. La Gazzetta dello Sport mencatat 19 umpan silang Juventus sepanjang laga berakhir tanpa hasil, dan pertanyaan yang diajukan ke Spalletti memang berangkat dari data tersebut. Dengan jumlah sebesar itu, persoalannya sulit dijelaskan semata sebagai akumulasi detail kecil yang meleset.
Meski begitu, Spalletti menolak menutup malam itu dengan nada negatif. Reaksi timnya setelah kebobolan ia anggap sebagai bukti bahwa fondasinya sudah terbentuk, dan gol Gatti sebagai upah dari sikap yang tidak berubah meski keadaan memburuk.
“Tim ini punya kekuatan untuk terus mendorong, karena mereka tidak layak tertinggal.”
— Luciano Spalletti
Satu poin ini membuat Juventus tetap tak terkalahkan setelah tiga laga, tetapi juga membuat mereka tertinggal dua poin dari Roma dan Inter yang masih mengoleksi poin penuh.