Kemenangan 3-0 atas Coventry City pada laga pembuka Premier League 2026/2027 datang dengan cara yang nyaris tanpa perlawanan. Kai Havertz, Bukayo Saka, dan Martin Ødegaard mencetak gol, sementara tim promosi itu tidak melakukan satu tekel pun sepanjang babak pertama. Dari tribun pers, dominasi sebesar itu memicu satu pertanyaan yang tidak disukai Mikel Arteta: apakah timnya terlihat santai?
Arteta memotong framing-nya di tempat.
“Saya tidak begitu suka istilah itu. Permainan mereka memang mengalir. Santai? Tidak. Menurut saya mereka butuh kejelasan dengan kadar yang pas.”
— Mikel Arteta
Kejelasan yang ia maksud ia jelaskan sendiri di kalimat berikutnya, dan isinya soal peran serta gagasan main: menurut Arteta para pemainnya tahu caranya, tahu persis apa yang harus dikerjakan, terlihat sangat terhubung satu sama lain, dan bermain dengan maksud yang jelas. Itu yang ia inginkan — bukan ketenangan yang datang kebetulan karena lawannya tidak melawan.
Nada serupa muncul saat ia ditanya apakah ada perasaan berbeda di ruang ganti kini timnya datang sebagai juara bertahan, bukan pengejar seperti tiga musim terakhir. Jawabannya datar, dan terdengar seperti orang yang sudah bosan ditanya hal yang sama.
“Mereka terus menanyakan itu kepada saya. Buat saya mereka terlihat persis sama.”
— Mikel Arteta
Apa yang terjadi di dalam kepala tiap pemain, katanya, bukan sesuatu yang bisa ia klaim tahu. Yang bisa ia tularkan hanyalah keinginan untuk terus membaik dan merebut hak untuk menjadi lebih baik dari siapa pun.
Pertanyaan ketiga menyoal atmosfer Emirates, yang malam itu jauh lebih rileks ketimbang energi gugup yang kerap menyelimuti stadion musim lalu. Lagi-lagi Arteta menahan diri untuk merayakannya.
“Mari kita lihat nanti saat skor 0-0, dan saat kami mungkin sedang tertinggal — lihat bagaimana kami bereaksi.”
— Mikel Arteta
Ia mengakui dua gol cepat memberi seluruh stadion landasan untuk merasa nyaman, tetapi mengingatkan bahwa pelajaran dari masa lalu masih berlaku. Baginya suasana seperti malam itu memang menyenangkan untuk disaksikan maupun dijalani, hanya saja ujian sesungguhnya belum datang.