Angka-angka Martin Odegaard di Stadio Diego Armando Maradona hampir tidak masuk akal untuk satu malam. Ia mencetak gol satu-satunya, menciptakan peluang terbanyak dengan enam, mencatat sentuhan terbanyak dengan 120, dan melepas umpan paling sering yang membelah lini pertahanan Napoli dengan lima. Itu golnya yang keempat dari lima penampilan musim ini.
Yang membuat malam itu terasa lebih penting adalah dari mana ia datang. Musim lalu kapten Arsenal kehilangan banyak laga karena cedera beruntun, dan gol ini jadi gol Liga Champions pertamanya sejak Maret 2025.
Mikel Arteta menjelaskan apa yang ia cari dari pemain di posisi itu, dan jawabannya lebih soal watak ketimbang teknik.
“Itu yang kami butuhkan, pemain dengan pola pikir untuk menentukan laga, dan bermain dengan karakter seperti itu, satu aksi bisa saja gagal, lalu ada yang berikutnya, dan yang berikutnya, terus mendesak, terus mengambil peluang dan risiko. Dia lebih sering masuk ke posisi-posisi itu dalam laga-laga terakhir, dan sekarang terasa dia sedang dalam kondisi yang membuatnya yakin bola itu bisa masuk, dan dia mencetak gol luar biasa malam ini.”
— Mikel Arteta, Arsenal FC
Perpindahan posisi itu bukan improvisasi. Arteta mengaku memang meminta Odegaard lebih sering naik, dengan alasan sederhana bahwa timnya kini punya banyak pemain yang mampu membawa dan memajukan bola lebih baik dari sebelumnya. Ketika beban progresi itu berpindah, sang kapten bisa mengambil ketinggian, sudut, dan posisi yang berbeda untuk merusak keseimbangan lawan.
Lalu datang pertanyaan apakah ada target gol yang ia tetapkan. Arteta tidak mengambil ruang untuk menjelaskan.
“Ya, gol setiap pekan, setiap laga gol, itu targetnya.”
— Mikel Arteta
Gol itu sendiri butuh kesabaran kolektif selama 75 menit. Bruno Guimaraes menemukan Ben White di kotak penalti, White mengalirkannya ke Odegaard, yang lalu bertukar umpan dengan Christos Tzolis sebelum melepas tembakan bersih yang masuk lewat tiang. Total ada 29 umpan dalam rangkaian itu, kedua terbanyak dalam catatan gol Liga Champions Arsenal.
Arteta memakai satu gambar untuk menjelaskan kenapa akhirnya jebol juga.
“Saya rasa momentum tim itu terasa, alirannya juga. Saat seorang pemain membuat kesalahan, di bagian berikutnya dia mengambil risiko dan mencoba lagi. Saya rasa kami seperti palu hari ini, terus dan terus dan terus sampai kami membongkar mereka.”
— Mikel Arteta
Declan Rice, rekan Odegaard di lini tengah, menaruh malam itu dalam konteks dua belas bulan terakhir yang jauh lebih berat bagi sang kapten.
“Dia selalu punya kemampuan itu, hanya saja tahun lalu dia sangat sial dengan cederanya, sangat sial mengalami dua cedera bahu, MCL, masalah lutut. Tapi saat pemain seperti itu bugar dan punya kualitas untuk bermain, dia bisa bersinar di tim mana pun dan buat kami dia sangat penting.”
— Declan Rice, Arsenal FC
Ditanya apakah ia melihat Odegaard sebagai orang yang berbeda musim ini, Arteta menaruh syarat pertamanya di soal ketersediaan. Menurutnya sang kapten kini punya sesuatu yang lebih tajam dalam dirinya, ditambah relasi baru di sekitarnya di dalam tim, dan ketika Arsenal berhasil menaruhnya di posisi- posisi tinggi itu, ia jadi pemain yang berbahaya.