Daftar pemain cedera Real Madrid masih cukup panjang ketika Jose Mourinho menghadapi media jelang laga melawan Malaga. Ia menjelaskannya satu per satu, dengan urutan yang cukup jelas soal siapa yang dekat dan siapa yang masih jauh.
“Endrick sudah dekat. Dari semuanya dia yang paling dekat untuk kembali, tapi saya tidak mau ambil risiko. Saya tidak mau ambil risiko dengan bilang ke kamu bahwa dia bisa main lawan Betis, tapi dia bisa saja untuk Betis, atau bisa juga untuk laga pertama Liga Champions.”
— Jose Mourinho, Real Madrid
Untuk Militao, Rodrygo, dan Asencio, ia hanya menyebut prosesnya lebih rumit tanpa memberi perkiraan waktu. Kasus yang ia jelaskan paling panjang justru Aurelien Tchouameni, dan alasannya bukan murni soal fisik.
“Dalam situasi Tchouameni kami harus mengendalikan emosi, karena saya tidak mau dia masuk karena keinginannya untuk main, lalu setelah itu keluar lagi. Dia sudah main di Piala Dunia, lalu berhenti, lalu main lagi di semifinal. Saya tidak mau memulai musim di bulan Agustus dengan situasi seperti ini. Saya lebih suka menunggu sebentar dan punya Tchouameni yang benar-benar fit.”
— Jose Mourinho
Kalimat itu menjelaskan kenapa pemulihan gelandang Prancis itu terkesan lambat. Mourinho tidak sedang menunggu tubuhnya siap saja, ia juga menahan keinginan pemainnya sendiri, dan menyebut jelas bahwa Tchouameni pemain penting bagi timnya.
Dari situ pembicaraan bergeser ke jeda internasional September, dan di sinilah nada Mourinho berubah paling gelisah. Yang membuatnya khawatir bukan pemain yang dimainkan timnasnya.
“Yang membuat saya khawatir itu pertandingan timnas karena waktunya lama, dan pemain yang akan main lebih sedikit membuat saya khawatir dibanding yang tidak main. Yang itu justru sangat membuat saya khawatir.”
— Jose Mourinho
Ia lalu menyinggung hubungan personalnya dengan Carlo Ancelotti sebagai contoh bagaimana urusan itu bisa berjalan mulus. Dengan Ancelotti, katanya, ia akan tetap tahu situasinya, dan mereka bahkan mungkin bisa bertukar data GPS. Persoalannya, hubungan seperti itu tidak ada dengan semua pelatih.
Menurutnya melepas pemain hampir tiga pekan ke pelatih yang tidak punya kedekatan seperti itu jauh lebih rumit, meski ia menegaskan tetap percaya pada profesionalitas mereka dan rasa hormat mereka kepada pemain serta klub. Ia menyebut periode itu sering melahirkan cedera, baik saat di timnas maupun setelah pemain kembali ke klub karena keseimbangan latihan mereka sudah hilang.
Semua kekhawatiran itu ia tutup dengan kalimat pasrah, bahwa ia tidak mau mendramatisasi, dan bahwa keadaannya memang begitu dan tidak ada yang bisa dilakukan.