Setelah bagian yang tegang soal cemoohan, Vinicius Junior dan Kylian Mbappe, konferensi pers Jose Mourinho hari Jumat berubah nada. Pertanyaan mulai bergeser ke hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan Rayo Vallecano, dan ia meladeninya.
Yang pertama soal di mana final Piala Dunia 2030 sebaiknya digelar. Mourinho memisahkan dua hal sejak awal, yaitu di mana seharusnya dan di mana ia inginkan.
“Di mana seharusnya digelar itu satu hal, di mana saya menginginkannya itu hal lain. Maafkan saya, tapi saya ingin di Lisbon. Saya sudah senang negara seperti kami mendapat beberapa laga Piala Dunia. Lagi pula, jawaban saya bukan karena saya pelatih Real Madrid, saya rasa kalian sedikit mengenal saya. Kalau bisa bermain di stadion legendaris dan bersejarah, tempat beberapa pemain terbaik sepanjang sejarah pernah bermain, dan itu stadion klub terpenting dalam sejarah sepak bola, saya rasa seharusnya di sini. Kalau saya pelatih Benfica, saya akan bilang persis sama.”
— Jose Mourinho, VAVEL
Portugal, Spanyol dan Maroko sama-sama jadi tuan rumah edisi 2030, jadi pertanyaan soal lokasi finalnya memang punya dua jawaban yang sah untuk seorang pelatih Portugal yang bekerja di Madrid. Mourinho memilih menjawab keduanya sekaligus.
Topik kedua lebih dekat ke laga malam ini. Grand Prix Formula 1 digelar di Madrid pada akhir pekan yang sama, dan wartawan bertanya apakah itu mengacaukan rencana timnya. Jawabannya diberikan dalam satuan menit.
“Biasanya, kalau saya tidak tidur di Valdebebas, saya berangkat pukul 07.15. Hari ini saya berangkat pukul 06.30. Saya kehilangan 45 menit tidur dan beberapa pemain juga. Yang tinggal dekat, tidak ada masalah. Kami tidak mengubah apa pun di latihan.”
— Jose Mourinho
Ia menambahkan klub menyiapkan dua opsi perjalanan untuk hari pertandingan, yaitu langsung ke Valdebebas atau datang ke stadion lebih dulu, menitipkan mobil di sana, lalu menjalani hari seperti biasa. Soal apakah ia sendiri akan mampir ke sirkuit, ia mengaku berteman dekat dengan Stefano Domenicali sejak tahun-tahun pertamanya di Italia dan sudah memegang tiket, tapi menaruh syarat.
Menurut dia, ia tipe orang yang kalau tidak menang maka tidak ada kehidupan, jadi kunjungan itu hanya terjadi kalau ia sedang senang. Dengan kata lain, Rayo dulu, balapan belakangan.
Ditanya apakah ada tim balap yang mengingatkannya pada Real Madrid, ia justru berhati-hati dan menolak memihak, meski satu kalimatnya tetap bocor.
“Yang merah akan selalu jadi yang merah.”
— Jose Mourinho
Ia juga memuji apa yang sedang dilakukan seorang pembalap muda bersama Mercedes sebagai sesuatu yang benar-benar luar biasa, dan menyebut Fernando Alonso sebagai sosok dengan kepribadian yang sangat ia sukai, salah satu yang terbaik, yang menurutnya selalu kebagian mobil yang tidak bagus.