Roma dan Inter sama-sama menyapu bersih empat laga awal Serie A dan mengoleksi 12 poin. Keduanya bertemu di Stadio Olimpico, Sabtu (19/9) pukul 18.00 waktu setempat atau 23.00 WIB, laga terakhir sebelum jeda internasional.
Laganya belum dimainkan, tapi sudah jadi bahan pertanyaan wartawan, Senin (14/9). Gian Piero Gasperini ditanya seusai Roma menang 2-0 di kandang Torino. Beberapa jam kemudian giliran Cristian Chivu, setelah Inter membalikkan ketinggalan 0-2 jadi kemenangan 5-3 atas Udinese.
Kepada DAZN, Gasperini ditanya seberapa penasaran ia menyambut Roma-Inter. Ia menempatkan Inter di atas, tapi tidak sendirian.
“Bagi semua orang, Inter adalah tim patokan di liga ini. Mereka tim kuat dan memang pantas disebut yang terhebat, meski menurut saya Como sudah sangat dekat dengan mereka.”
— Gian Piero Gasperini, AS Roma
Gasperini menyebut laga Sabtu sebagai kesempatan Roma untuk mengukur diri dan tampil lebih baik dari laga-laga terakhir. Musim lalu Roma kalah telak di San Siro pada putaran kedua, dan menurutnya justru dari situ Roma yang sesungguhnya lahir. Pertemuan putaran pertama di Olimpico ia nilai lebih ketat. Roma kebobolan cepat, tapi mungkin pantas mendapat lebih.
Di ruang konferensi pers, pertanyaannya melebar. Seorang wartawan menyebut Inter, Roma, dan Como sebagai tim-tim terkuat, lalu bertanya apakah perjalanan di Liga Champions yang akan menentukan hasil akhirnya. Gasperini tidak menampik bebannya.
“Liga Champions menguras banyak energi, itu tidak bisa disangkal. Risiko terbesarnya adalah cedera.”
— Gian Piero Gasperini, Forzaroma.info
Ia mencontohkan lawatan ke Istanbul. Setelah laga di stadion seperti itu, ia sendiri butuh dua hari untuk pulih, apalagi para pemainnya. Menurutnya sisi buruk kompetisi Eropa adalah cedera, karena tim bisa kehilangan pemain untuk empat sampai lima laga.
Energi yang sama dipakai Chivu untuk menjelaskan awal buruk Inter melawan Udinese. Kepada Sky Sport, ia mengaku sudah menduga penurunan itu karena Liga Champions menyedot banyak energi.
Chivu sebelumnya bilang Inter tidak sempurna dan memang tidak ingin jadi sempurna. Ia lalu ditanya apakah di Roma nanti Inter butuh kesempurnaan, dan apakah Roma serta Como yang sedang kuat jadi motivasi tambahan.
“Saya belum pernah melihat tim yang sempurna seumur hidup saya. Kami akan berusaha mempertahankan identitas kami, juga saat melawan Roma.”
— Cristian Chivu, Inter.it
Menurut Chivu, Inter memang harus bermain seperti itu karena apa yang sudah dibangun bertahun-tahun dan nilai-nilai di dalam grupnya. Di beberapa laga cara itu menuntut harga lebih mahal, di laga lain tidak. Ia juga sadar Inter masih bisa kesulitan lagi ke depan, seperti di 25 menit pertama melawan Udinese.
Chivu tidak menutupi arti laga Sabtu nanti.
“Jelas laga lawan Roma sebelum jeda itu sangat penting. Selama jeda kami tetap akan berlatih, tapi pemain yang tersisa cuma sedikit.”
— Cristian Chivu
Kepada Sky, jawabannya lebih rinci. Ia sudah melihat daftar pemain yang dipanggil tim nasional, dan hanya tiga pemain yang akan tersisa untuknya selama jeda.
Chivu juga belum bisa memastikan kondisi dua pemainnya. Hakan Calhanoglu absen melawan Udinese karena keluhan di otot adduktor, sementara John Stones ditarik keluar setelah merasakan sesuatu di otot paha belakang. Keduanya masih menunggu hasil pemeriksaan.
Roma datang ke laga ini dengan Donyell Malen yang sudah mencetak enam gol dalam empat laga. Inter membawa 13 gol dari empat laga, tapi juga sudah enam kali kebobolan.