Di konferensi pers, nada Cristian Chivu sebagian besar berisi pujian untuk reaksi timnya. Di ruang yang berbeda, kepada Inter TV, ia menaruh penekanannya di tempat lain. Inter memang mengejar ketertinggalan dua gol di Olimpico dan menutup laga melawan Roma 2-2, Sabtu (19/9), lewat dua gol Lautaro Martinez.
Yang mengganjal baginya bukan dua poin yang lepas.
“Rasa pahit yang saya bawa itu untuk apa yang tidak kami lakukan di babak pertama, bukan untuk kemenangan yang gagal diraih di babak kedua.”
— Cristian Chivu kepada Inter TV, FcInterNews
Sebelum kalimat itu, ia lebih dulu mengakui apa yang timnya lakukan setelah turun minum, dan menempatkan satu poin ini sebagai bukti, bukan hiburan.
“Tim bereaksi, melakukan apa yang harus dilakukan, mengeluarkan apa yang dibutuhkan. Saya ambil satu poin ini sebagai penegasan bahwa kami bisa ikut bicara di kompetisi ini.”
— Cristian Chivu kepada Inter TV
Dua gol Manu Kone di babak pertama itulah yang ia maksud. Yang pertama datang di menit keenam, ketika Inter kehilangan bola saat membangun serangan dari belakang. Yang kedua menjelang turun minum, lewat umpan silang yang berujung bola jatuh ke kaki Kone di depan gawang.
Soal isi 45 menit pertama itu sendiri, ia menutup rapat. Kepada DAZN ia mengatakan apa pun yang perlu ia sampaikan soal babak pertama sudah ia sampaikan di ruang ganti saat jeda, dan itu urusan antara dirinya dan para pemain.
Yang ia buka di depan publik cuma arah perbaikannya.
“Kami harus lebih baik dalam memulai pertandingan dan memahami lawan, dengan mengimbangi intensitasnya. Tapi ini wajar, orang belajar lalu berjalan terus. Dibanding tahun lalu kami sudah berada di titik yang baik.”
— Cristian Chivu kepada DAZN, ANSA
Urutan itu yang membedakan malam ini dari perayaan comeback biasa. Inter pulang dengan satu poin dari kandang salah satu pesaing langsungnya, tetap di puncak klasemen bersama Roma dan Lazio, dan pelatihnya lebih sibuk membicarakan 45 menit yang membuat comeback itu diperlukan.