Inter kembali pulang dari sebuah stadion sulit dengan satu poin yang tadinya tidak terbayang. Tertinggal 0-2 di Olimpico lewat dua gol Manu Kone, tim asuhan Cristian Chivu membalas dengan dua gol Lautaro Martinez, yang pertama 50 detik setelah babak kedua dimulai dan yang kedua di menit ke-79. Laga Serie A pekan kelima itu berakhir 2-2, Sabtu (19/9).
Chivu memulai penilaiannya bukan dari comeback-nya, melainkan dari apa yang membuat comeback itu diperlukan.
“Masih ada yang harus dikerjakan, di sepak bola kamu harus menjalankan dua fase. Apa masalah Inter? Saya akan mulai dari reaksinya, dan saya berharap semua orang sudah paham apa yang perlu diperbaiki.”
— Cristian Chivu, FcInterNews
Yang ia puji justru para pemain yang masuk dari bangku cadangan, sekaligus mengakui mungkin ia terlambat memainkan mereka.
“Ketika orang bicara soal kedalaman skuad, terlihat seberapa besar para pemain pengganti bisa menentukan. Mungkin kami bisa memasukkan mereka lebih cepat, tapi saya ambil sisi baiknya, yaitu apa yang anak-anak saya lakukan saat masuk, seberapa besar mereka menentukan.”
— Cristian Chivu
Kepada DAZN, ia membelah laga itu dengan lebih terang lagi, sekaligus menolak membuka isi ruang ganti saat turun minum.
“Saya mulai dari babak kedua, karena apa yang harus saya katakan soal babak pertama sudah saya sampaikan saat jeda dan itu tetap antara saya dan mereka. Di babak kedua, dari sikap, semangat, dan kepribadian, kami tampil hebat melawan tim yang besar.”
— Cristian Chivu kepada DAZN, ANSA
Pemain pengganti yang ia maksud memang mengubah bentuk laga. Inter menekan jauh lebih tinggi setelah jeda, Roma mulai kepayahan, dan pelatih tuan rumah sampai harus mengubah lini belakangnya lebih cepat dari rencana. Satu-satunya hal yang tidak berubah dari babak pertama adalah nama pencetak golnya, dan itu ada di kubu Inter.
Kemampuan bangkit itu bukan kebetulan, dan angkanya sudah jadi ciri tersendiri. Sejak Chivu menangani Inter, ini kali keenam timnya lolos dari kekalahan di Serie A setelah tertinggal minimal dua gol. Sebagai pembanding, dalam sepuluh musim sebelumnya Inter hanya enam kali melakukan hal yang sama. Artinya pencapaian sepuluh musim itu disamai dalam hitungan bulan.
Angka itu punya dua bacaan sekaligus, dan Chivu memilih yang tidak nyaman. Kemampuan mengejar memang menunjukkan mental yang tidak patah, tapi ia juga berarti Inter terlalu sering menempatkan dirinya dalam posisi harus mengejar.
Chivu sendiri tidak memperlakukannya sebagai prestasi. Ia justru menutup dengan daftar pekerjaan.
“Kami harus lebih baik dalam memulai pertandingan dan memahami lawan, dengan mengimbangi intensitasnya. Tapi ini wajar, orang belajar lalu berjalan terus. Dibanding tahun lalu kami sudah berada di titik yang baik. Fase tanpa bola harus diperbaiki.”
— Cristian Chivu kepada DAZN
Kalimat penutup itu menunjuk satu hal yang konkret. Roma mencetak dua gol dari dua kesempatan yang datang saat Inter kehilangan bentuk tanpa bola, yang pertama bahkan berawal dari kegagalan membangun serangan sendiri di area belakang.
Satu poin itu membuat Inter tetap berada di puncak klasemen dengan 13 poin, berbagi tempat dengan Roma dan Lazio. Sebelum laga, Olimpico hening satu menit untuk Sandro Mazzola, legenda Inter yang meninggal di usia 83 tahun, dan para pemain Inter turun dengan ban hitam di lengan.