Gasperini Sebut Kebobolan Gol Lautaro karena Sembrono dan Sombong

Serie A

Gasperini Sebut Kebobolan Gol Lautaro karena Sembrono dan Sombong

Lima puluh detik babak kedua berjalan, dan itu kali ketiga musim ini Roma kebobolan di menit-menit awal babak kedua

Roma turun minum dengan keunggulan 2-0 atas Inter, dua-duanya lewat Manu Kone, dan dengan lawan yang menurut catatan pertandingan sempat kesulitan di penghujung babak pertama. Lima puluh detik setelah babak kedua dimulai, keunggulan itu tinggal satu gol. Thuram mengangkat kepala dari sisi kiri, Lautaro Martinez menyentuh bola sekali, dan Mile Svilar terlewati.

Gian Piero Gasperini tidak menghaluskan bahasanya soal gol itu. Ketika pewawancara DAZN menyinggung bahwa ini bukan yang pertama musim ini, ia lebih dulu membetulkan hitungannya.

“Ini yang ketiga kalinya. Cara kami kebobolan gol itu sembrono dan, kalau boleh dibilang, sombong. Laga ini sebenarnya sudah berjalan ke arah yang kami mau, dan situasinya memungkinkan kami berbahaya lewat serangan balik.”

— Gian Piero Gasperini kepada DAZN, FcInterNews

Versi yang ia sampaikan di ruang lain malam itu lebih gamblang lagi soal polanya, bukan cuma soal satu gol.

“Tiga gol yang kami terima di lima menit pertama babak kedua bukan kebetulan. Hari ini kami kebobolan dengan cara yang sembrono dan juga sedikit sombong.”

— Gian Piero Gasperini, ANSA

Gol kedua Lautaro di menit ke-79 pun lahir dari situasi yang berantakan: Svilar lebih dulu menepis sundulan Thuram, bola tetap tinggal di kotak penalti, umpan silang berikutnya disentuh Bisseck, dan Lautaro menyelesaikannya dengan tendangan putar.

Gol itu mengubah dua hal sekaligus. Inter mendapat energi, dan Roma mendapat kegelisahan. Gasperini juga terpaksa mengubah lini belakangnya lebih cepat dari rencana karena Leandro Balerdi harus keluar.

“Di awal babak kedua, gol Lautaro memberi energi kepada Inter dan membuat kami sedikit cemas. Saya harus mengubah lini belakang karena kami mulai kepayahan.”

— Gian Piero Gasperini kepada DAZN

Keluhan soal awal babak kedua itu punya rekam jejak. Ini bukan cuma soal satu gol Lautaro, melainkan pola yang sudah berulang sejak kompetisi dimulai lima pekan lalu, dan Gasperini menghitungnya sendiri di depan kamera tanpa perlu diingatkan.

Meski begitu, ia menolak membaca sisa laga sebagai kepanikan. Roma tetap menyerang, dan Gasperini menunjuk satu peluang besar Donyell Malen yang tendangannya justru mengenai wajah kiper Inter sebagai bukti timnya tidak pernah keluar dari laga. Lautaro kemudian menyamakan kedudukan di menit ke-79, dan pertandingan berakhir 2-2.

“Saya harus bilang kami selalu ada di dalam laga. Kami tidak pernah berhenti menyerang melawan tim yang besar secara fisik maupun teknis.”

— Gian Piero Gasperini kepada DAZN

Kalimat itu yang menjelaskan kenapa nada Gasperini malam itu campuran: puas pada apa yang timnya lakukan selama 90 menit, tapi tidak mau melewatkan satu kebiasaan yang sudah muncul tiga kali dalam lima pekan.

Berita lain dari laga ini