Dua gol Lautaro Martinez yang membuat Roma gagal menang atas Inter di Olimpico, Sabtu (19/9), datang dengan cara yang berbeda. Yang pertama lahir 50 detik setelah babak kedua dimulai, lewat satu sentuhan lembut dari umpan Thuram. Yang kedua di menit ke-79, tendangan putar di dalam kotak setelah bola liar hasil penyelamatan Mile Svilar.
Selesai laga, kapten Inter itu berpelukan dengan pelatih lawan. Di konferensi pers, Gian Piero Gasperini ditanya apa isi pelukan tersebut.
“Dia selalu mencetak gol ke tim saya dan saya bilang ke dia supaya berhenti.”
— Gian Piero Gasperini, FcInterNews
Kalimat itu ia ucapkan sambil tertawa, lalu ia lanjutkan dengan pengakuan yang menghapus kesan mengeluh.
“Dia melakukannya ke semua orang. Lautaro itu pemain hebat.”
— Gian Piero Gasperini
Keluhan bercanda itu punya dasar yang nyata. Gasperini memang tidak pernah mengalahkan Inter dalam rentetan panjang pertemuan, sesuatu yang sudah ia bahas sendiri sebelum laga ketika ditanya apakah Inter adalah kryptonite-nya. Sore itu, orang yang menghentikan langkahnya lagi adalah penyerang yang sama.
Laga itu awalnya justru dibayangkan sebagai duel antarpenyerang, Donyell Malen di satu sisi dan Lautaro di sisi lain. Yang muncul cuma satu nama. Peluang paling besar Malen malah berakhir dengan bola yang mengenai wajah kiper Inter, sementara dua gol Lautaro menyelamatkan timnya dari kekalahan.
Di Roma sendiri, pahlawan sore itu seharusnya Manu Kone, yang juga mencetak dua gol dan membuat Olimpico meledak sejak menit keenam. Bedanya, dua gol Kone tidak berujung tiga poin, dan dua gol Lautaro menyelamatkan satu poin.