Inter kalah 2-1 di Bernabeu, dan dua golnya lahir dari kesalahannya sendiri: umpan Curtis Jones yang salah alamat berujung gol Kylian Mbappe di menit ke-14, lalu Josep Martinez yang mencoba menggiring bola melewati Federico Valverde dari jarak enam meter di menit ke-23. Meski begitu, Cristian Chivu keluar dari stadion itu tanpa kemarahan.
Yang ia ambil justru sikap timnya. Chivu menegaskan kesalahan adalah bagian dari olahraga ini, dan yang menentukan adalah apa yang terjadi sesudahnya.
“Saya sama sekali tidak marah. Saya senang dengan tim saya, dengan keberaniannya, karakternya, dan caranya melewati momen-momen sulit. Kalau ada kesalahan, itu bagian dari permainan. Yang saya pedulikan itu reaksinya, bahasa tubuhnya, sikapnya, dan tetap percaya sampai akhir.”
— Cristian Chivu, Football Italia
Bagian yang paling ia banggakan adalah cara timnya datang. Inter menutup laga dengan penguasaan bola 61 persen, hampir dua kali lipat jumlah umpan sukses tuan rumah, dan sembilan sepak pojok berbanding tiga. Angka itu yang ia jadikan bukti bahwa timnya tidak datang untuk bertahan hidup.
“Hari ini kami ambil penampilan bagusnya, dan fakta bahwa kami berani main terbuka melawan tim seperti Real Madrid.”
— Cristian Chivu
Jalannya laga memang mendukung klaim itu, setidaknya sampai menit kedua puluh. Inter menguasai bola sejak awal dan memaksa Madrid bertahan dengan blok rendah, Marcus Thuram sudah menguji Thibaut Courtois di menit ketiga dari terobosan Andy Diouf di kanan, dan Lautaro Martinez memaksa kiper Belgia itu bekerja lagi di menit ke-13. Dalam rentang sekitar sepuluh menit sesudahnya, dua kesalahan itu mengubah segalanya. Di babak kedua Inter tetap menekan, dan Courtois masih harus menepis percobaan Henrikh Mkhitaryan di menit ke-90.
Di ruang pers, nadanya sama. Chivu menyebut ia melihat tim yang berani datang ke Bernabeu dengan sadar siapa Real Madrid dan tetap menghormatinya, dan menurut dia arah yang sedang ditempuh klubnya sudah benar. Janji yang ia ucapkan sehari sebelumnya, soal tampil berani dan ingin dominan tanpa mengubah jati diri, setidaknya terbukti di angka-angka penguasaan bola, meski bukan di papan skor. Kesalahan-kesalahannya pun ia tanggung sendiri, dengan catatan bahwa ia memang menuntut hal-hal tertentu dari para pemainnya.
“Sepak bola itu soal gol yang tercipta, tapi saya ambil keberaniannya. Kami tidak datang untuk cari selamat, kami datang untuk memainkan laga kami.”
— Cristian Chivu, InterNews24
Soal ketumpulan di depan gawang, ia menolak khawatir. Menurut Chivu, ini tim yang sama yang mencetak lebih dari seratus gol musim lalu, dan yang penting bagaimana timnya sampai ke kotak penalti, sesuatu yang menurut dia tetap terjadi bahkan di stadion ini. Ia juga menyebut kekalahan ini tidak sepadan dengan penampilan timnya, sambil mengingatkan masih ada tujuh laga lagi di fase liga.
Suara dari ruang ganti sejalan. Carlos Augusto, yang mencetak gol Inter pada menit ke-77 lewat asis Lautaro Martinez, menyebut detail-detail kecil yang membedakan hasilnya.
“Saya ingin berterima kasih kepada rekan-rekan saya karena bermain di sini tidak pernah mudah. Kami melakukan apa yang kami bisa untuk mencoba menang, tapi detail yang menentukan, dan kami harus lebih banyak menuntaskan peluang. Gol saya terasa pahit; bagi saya yang terpenting adalah Inter menang.”
— Carlos Augusto, Inter
Inter kembali ke Serie A lebih dulu, menjamu Udinese Senin depan, sebelum melanjutkan fase liga dengan nol poin dari laga pertama.