Arsenal datang ke Amex Stadium, Sabtu (19/9), dengan rentetan kemenangan liga yang belum terputus musim ini. Yang mereka bawa pulang justru kekalahan pertama, 0-3, sekaligus kekalahan terbesar mereka sejak Brighton menang dengan skor yang sama di Emirates pada Mei 2023.
Dua gol Brighton di babak pertama lahir dari jarak jauh, lewat Pascal Gross dan Charalampos Kostoulas. Chema Andres menambahnya dengan sundulan dari sepak pojok sebelum laga menyentuh menit ke-60. Mikel Arteta tidak mencari alasan di konferensi pers setelahnya.
“Sangat kecewa. Tapi pertama-tama saya rasa kami harus memberi selamat kepada Brighton atas kemenangan ini. Menurut saya mereka pantas menang, menurut saya mereka tim yang lebih baik.”
— Mikel Arteta, Arsenal.com
Yang ia soroti bukan taktik besar, melainkan daftar pekerjaan paling sederhana yang tidak diselesaikan timnya.
“Dari sisi kami, ada hal-hal mendasar yang harus dipenuhi dalam sepak bola, apalagi di Premier League, dan kami jauh dari itu. Memenangi duel pertama, bola kedua.”
— Mikel Arteta
Dua hal itu, katanya, yang menempatkan laga ini di tempat yang sangat sulit bagi timnya, apalagi menghadapi cara main Brighton yang langsung.
Brighton menjaga pemain Arsenal satu lawan satu di seluruh lapangan, dan Arsenal tidak punya jawaban untuk keluar dari situ. Kepercayaan diri mereka saat mengoper hilang sejak menit-menit awal, dan hampir setiap bola liar jatuh ke kaki tuan rumah. Menurut Arteta, kesalahan teknis timnya sendiri yang memperparah keadaan, terutama saat bola direbut kembali di area pertahanan.
“Belum lagi, terutama di separuh lapangan kami sendiri, kami tidak menjalankan satu pun prinsip permainan untuk keluar dari situasi man-to-man. Itu membuat kami selalu tertekan, jadi sangat sulit mengendalikan laga.”
— Mikel Arteta
Arteta mengaku gejalanya sudah terbaca jauh sebelum gol pertama. Ia menunjuk satu situasi paling sepele yang biasanya tidak pernah masuk catatan seorang pelatih.
“Dari lemparan ke dalam pertama saja sudah kelihatan jelas sekali. Kami menyulitkan diri sendiri, satu, dua, tiga kali.”
— Mikel Arteta
Arsenal, menurutnya, harus keluar dari situasi semacam itu jauh lebih cepat, dan ia menyebutnya salah satu pelajaran terbesar dari laga ini.
Bukan berarti Arsenal tidak pernah menekan. Ada periode ketika mereka menguasai bola dan berhasil membuka pertahanan tuan rumah. Masalahnya berhenti di sentuhan terakhir, dan sore itu Arsenal tidak sekali pun menghukum Brighton. Di sisi sebaliknya, dua tembakan jarak jauh dan satu bola mati sudah cukup untuk menyelesaikan laga.
“Saat kami sempat mendominasi dan menguasai laga, kami memang membongkar mereka, tapi kami tidak menuntaskan aksi-aksi itu dengan kualitas yang dibutuhkan untuk menutupi kesalahan yang kami buat.”
— Mikel Arteta
Arteta menolak membiarkan satu sore ini menghapus apa yang dikerjakan timnya sejak kompetisi bergulir lagi. Ini laga tandang keempat Arsenal dalam rentang waktu yang pendek, dan skuadnya baru saja utuh kembali setelah Piala Dunia.
“Itu tidak akan menghapus apa yang sudah dilakukan tim ini sejak kembali dari Piala Dunia. Dengan 18 pemain yang baru kembali, cara kami bertanding dan banyaknya kemenangan yang kami raih itu luar biasa. Tapi ini pelajaran besar soal apa yang dibutuhkan untuk menang di level ini.”
— Mikel Arteta
Ia juga menegaskan tidak ada yang mengejutkan dari betapa sulitnya liga ini. Arsenal, katanya, sudah dua hari membicarakan apa yang harus dilakukan di Amex, dan sama tahunya soal apa yang dibutuhkan untuk mengalahkan Leeds saat kompetisi berlanjut. Kalimat terakhirnya soal itu ia tutup dengan catatan bahwa pemahaman semacam itu tidak mengurangi kekecewaan dan kondisi emosional timnya saat itu.