Momen kembalinya José Mourinho ke bangku cadangan Santiago Bernabéu, 13 tahun setelah periode pertamanya, jelas punya nilai emosional tersendiri. Usai kemenangan 4-1 atas Real Sociedad, sang pelatih tak menyembunyikan kekagumannya pada stadion yang kini tampil dengan wajah baru.
“Bahkan lebih indah dari sebelumnya. Menang itu luar biasa. Sebelum laga saya tenang, sudah bertahun-tahun. Saya punya pemain-pemain hebat yang membuat saya menikmati peran sebagai pelatih dan sebagai seseorang yang mencintai sepak bola.”
— José Mourinho, Managing Madrid
Meski disambut hangat, Mourinho justru merasa tak nyaman ketika namanya dinyanyikan oleh sebagian pendukung. Baginya, sorotan seharusnya tertuju pada tim, bukan pada sosoknya sebagai pelatih.
“Saya tak suka fans menyanyikan nama saya. Ini soal tim. Saya senang dengan perasaan yang bisa dirasakan para pemain dan fans di akhir laga, kami pulang dengan senyum dan besok berlatih karena Minggu kami main lawan Málaga.”
— José Mourinho
Sikap itu memperlihatkan bagaimana Mourinho ingin membingkai periode keduanya di Madrid, dengan menempatkan kolektivitas di atas kultus individu. Ia tampak sadar bahwa euforia kedatangannya bisa menjadi bumerang jika tak diarahkan pada kepentingan tim.
Kembalinya Mourinho sendiri sudah lama dinanti para pendukung. Tiga belas tahun berlalu sejak periode pertamanya berakhir, dan malam ini ia menjejak kembali rumput Bernabéu yang telah berganti wajah, kini dengan wujud dan atmosfer yang jauh berbeda. Bagi banyak suporter, kehadirannya adalah campuran nostalgia dan harapan baru untuk musim yang baru saja dimulai. Kemenangan telak di laga perdana pun terasa seperti awal yang ideal untuk membangun ikatan kembali.
Kini, dengan sambutan Bernabéu yang meriah dan tiga poin di kantong, Mourinho memilih segera mengalihkan perhatian ke agenda berikutnya. Baginya, senyuman malam ini hanya akan berarti bila diikuti kerja keras dan hasil yang konsisten di laga-laga selanjutnya.