Real Madrid mengawali Liga Champions dengan tiga poin, tapi bukan dengan laga yang diinginkan pelatihnya. Kylian Mbappe membuka skor pada menit ke-14 dan Federico Valverde menggandakannya di menit ke-23, keduanya lahir dari kesalahan Inter sendiri, sebelum Carlos Augusto memperkecil jarak pada menit ke-77 dan membuat sisa laga jadi menegangkan. Jose Mourinho menyebut pertandingan itu gila, dan ia mengaku tidak menikmati kegilaan macam itu.
Yang ia soroti bukan hasilnya, melainkan seberapa liar peluang di kedua sisi. Menurut Mourinho, angka akhirnya bisa jauh lebih besar ke arah mana saja.
“Laga ini bisa berakhir 5-1 atau 6-1 untuk kami. Bisa juga berakhir 6-6. Saya tidak mau mengatakan Inter yang memenangi laga ini, karena kami menciptakan lebih banyak peluang, termasuk di momen-momen krusial, seperti dua peluang Jude sebelum dan sesudah jeda.”
— Jose Mourinho, Real Madrid
Preferensinya ia sebut terang-terangan, dan itu yang menjelaskan kenapa kemenangan ini tak membuatnya puas. Bagi Mourinho, menang besar dengan kendali penuh jauh lebih bernilai daripada menang tipis yang digantungkan pada penampilan kipernya.
“Laganya gila, dan saya tidak suka kegilaan seperti itu. Saya lebih suka mencetak 5, 6, atau 7 gol tapi dengan kendali penuh, dan tanpa perlu penampilan yang benar-benar luar biasa dari kiper.”
— Jose Mourinho
Kipernya memang jadi bahasan tersendiri. Thibaut Courtois beberapa kali menyelamatkan Madrid, termasuk di menit ke-90 saat menepis percobaan Henrikh Mkhitaryan, sementara gelar pemain terbaik laga jatuh ke Valverde. Mourinho menyampaikan protesnya sambil tertawa.
“Di laga hari ini, siapa pun yang menentukan pemain terbaik di lapangan pasti sedang tertidur, karena kalau mereka tidak memberikan penghargaan itu ke Courtois hari ini, mereka tidak akan pernah memberikannya. Tanpa mengurangi penghargaan untuk Fede, yang memenangkannya.”
— Jose Mourinho
Soal permainannya sendiri, penilaiannya terbagi. Gol Valverde ia sebut bukan kebetulan melainkan pembacaan yang bagus atas struktur dan strategi yang ia siapkan, dan timnya ia nilai sangat baik ketika kompak. Sebaliknya, gol Inter datang saat intensitas bertahan Madrid sudah turun dan ia mengaku tak punya cukup pemain di lapangan untuk mengendalikan laga dengan cara lain. Sebagai pelatih, katanya, ia tak bisa melakukan hal-hal yang sebenarnya ingin ia lakukan.
Inter pulang dengan penguasaan bola 61 persen dan sembilan sepak pojok berbanding tiga, angka yang cocok dengan gambaran Mourinho soal laga yang tak ia kendalikan. Yang ia ambil tinggal tiga poinnya: laga berat, tiga poin krusial, dan menurutnya Madrid kini tiga poin lebih dekat ke babak berikutnya.