Arsenal membuka derby London melawan Chelsea dengan cara terburuk, kebobolan voli Morgan Rogers dari sebuah bola mati hanya dalam 77 detik. Namun tuan rumah bangkit untuk menang 2-1 di Emirates lewat gol penyeimbang Kai Havertz ke gawang mantan klubnya dan gol kemenangan Martin Ødegaard di babak kedua. Bagi Mikel Arteta, justru cara timnya merespons pukulan awal itulah yang paling membanggakan.
Sang pelatih tak menyembunyikan kepuasannya atas penampilan timnya secara keseluruhan, termasuk bagian yang paling tidak nyaman.
“Menurut saya itu penampilan yang luar biasa. Saya menikmati setiap menitnya, dari awal sampai akhir. Awalnya berat tapi saya menikmatinya karena tim bereaksi dengan cara yang spektakuler.”
— Mikel Arteta, Arsenal.com
Soal gol pembuka Chelsea, Arteta tidak mencari pembelaan. Ia menyebut ada hal yang timnya lakukan dengan buruk di situasi itu, sesuatu yang sudah pernah mereka bahas sebelumnya, sambil tetap memberi kredit untuk eksekusi lawan.
“Ada sesuatu yang kami lakukan dengan buruk saat kebobolan gol itu, dan itu sudah kami bahas sebelumnya. Tapi kredit juga untuk mereka, dari bola atas itu ada yang sanggup menempatkan bola sangat dekat ke tiang dan menjebol gawang David, dan itu tidak mudah. Setelah itu kami bereaksi, penonton kembali luar biasa, atmosfer yang kami bangun di dalam stadion begitu menginspirasi dan sangat membantu, dan ini terasa seperti kemenangan besar buat kami.”
— Mikel Arteta
Jalannya laga memang seolah dirancang untuk menguji mental itu. Setelah dikejutkan Morgan Rogers, Arsenal perlahan mengambil alih kendali dan menyamakan kedudukan lewat Kai Havertz, yang kembali menjebol gawang mantan klubnya. Havertz pula yang menjadi kunci gol kemenangan, ketika tipuan cerdiknya membuka ruang bagi Martin Ødegaard merobek gawang Chelsea di babak kedua. David Raya beberapa kali tampil krusial menjaga keunggulan, memastikan dominasi tuan rumah tak berbuah sia-sia.
Dari sana Arteta menarik kesimpulan yang lebih jauh ketimbang sekadar tiga poin. Ia menilai timnya punya ruang untuk naik level dibanding musim lalu, dengan satu syarat yang ia tekankan sendiri.
“Menurut saya ini indikasi bagi kami bahwa kami sanggup tampil lebih tinggi lagi dari musim lalu. Itu tergantung apakah kami mempertahankan hasrat dan kerendahan hati itu, dan terus mencari versi yang lebih baik dari diri saya sendiri dan tim setiap hari. Kami masih punya banyak ruang untuk tumbuh dan banyak yang bisa diberikan, dan itu ambisi tim ini.”
— Mikel Arteta
Meski begitu, ditanya soal peluang bertahan tanpa kekalahan, Arteta menolak membayangkan jalan yang mulus. Ia menunjuk lawatan berat ke Villa Park beberapa hari sebelumnya dan perjalanan berikutnya ke Sunderland.
“Akan sangat sulit, melihat tipisnya margin kemenangan. Kalian melihatnya beberapa hari lalu ketika kami ke Villa Park, dan itu laga yang benar-benar berat, hari ini juga. Lalu kami akan ke Sunderland, dan itu akan sangat, sangat sulit lagi. Kami tahu setiap pekan akan seperti ini, tapi memang itu yang kami siapkan.”
— Mikel Arteta
Kemenangan ini menjaga langkah sempurna Arsenal, tiga kemenangan dari tiga laga yang membawa mereka memuncaki klasemen sejak dini. Namun nada Arteta jauh dari euforia. Ia memperlakukan hasil di derby ini sebagai pengingat bahwa margin di papan atas begitu tipis, dan bahwa gelar musim lalu tak memberi jaminan apa pun untuk pekan-pekan berikutnya. Beratnya lawatan ke Villa Park pekan lalu, laga Liga Champions yang sudah menanti di tengah pekan, hingga perjalanan berikutnya ke Sunderland, ia jadikan alasan untuk menuntut lebih, bukan bersantai.
Yang tersisa dari sore itu adalah gambaran tim yang bisa kalah start dan tetap menang, dan seorang pelatih yang jelas lebih tertarik pada 88 menit setelahnya ketimbang 77 detik pertamanya.