Como memainkan laga Liga Champions pertama sepanjang sejarah klub malam ini, Kamis (10/9) pukul 21.00 waktu setempat atau Jumat dini hari pukul 02.00 WIB, di Stadio Giuseppe Sinigaglia yang baru direnovasi. Lawannya RB Leipzig. Kota itu sudah bergetar sejak beberapa hari lalu, dan Cesc Fabregas menghabiskan sebagian besar konferensi persnya untuk menurunkan suhu.
“Buat kami ini harus jadi laga seperti semua laga lain, kami akan turun ke lapangan dengan tujuan menang. Saya paham apa artinya ini buat kota dan buat klub, dan emosi yang ada di sekelilingnya, tapi kami harus tetap fokus di lapangan. Kami menghadapi tim berlevel sangat tinggi dan buat kami ini juga kesempatan penting untuk tumbuh dan memahami di titik mana kami berada.”
— Cesc Fabregas, Pazzi di Fanta
Sikap itu berlanjut ke cara ia menyusun tim. Ditanya soal susunan pemain, Fabregas menolak menjadikan jam terbang Eropa sebagai kriteria, dan ia menjawabnya dengan contoh yang cukup tajam.
“Saya akan menurunkan pemain yang menurut saya paling bisa membantu kami mencapai tujuan kami, yaitu menang. Anda sudah mengenal saya dua setengah tahun, buat saya pengalaman semata bukan hal mendasar yang harus dimiliki pemain saya. Pemain dengan seratus penampilan di Liga Champions pun bisa membuat kesalahan.”
— Cesc Fabregas
Menurutnya level skuadnya sudah naik sampai titik di mana sebagian keputusan baru ia ambil menjelang rapat tim, dan itu justru bukti betapa rapatnya jarak antarpemain. Ia menyebut tidak ada yang bisa tahu pasti siapa yang bermain, karena semua siap memberi kontribusi. Meski begitu ia mengaku sudah menentukan satu bagian, yaitu siapa yang bermain di lini serang.
Soal pidato sebelum laga sebesar ini, jawabannya sama sekali tidak seremonial. Fabregas bilang ia tidak pernah menyiapkan apa pun lebih dulu, dan lebih suka menyampaikan kepada para pemainnya apa yang muncul dari dalam dirinya saat itu.
Persiapannya sendiri tidak sepenuhnya bisa mengandalkan pengalaman. Fabregas mengakui ini laga Liga Champions pertama Como sehingga ia hanya bisa membayangkan seperti apa jalannya, dan untuk itu ia menonton tiga atau empat pertandingan sehari sebelumnya. Meski begitu, menurutnya timnya punya gagasan sepak bola yang jelas dan tidak bisa mengubahnya terlalu banyak hanya karena kompetisinya berbeda.
Rasa hormatnya kepada lawan justru ia sampaikan panjang lebar. Leipzig ia sebut klub yang membangun sesuatu dari nol dan tetap konsisten pada arahnya, termasuk dalam memilih pelatih.
“Leipzig klub penting dan mereka sudah membuktikannya selama bertahun-tahun. Dalam waktu singkat mereka berhasil membangun budaya sendiri dan identitas yang sangat jelas, praktis dari nol. Ini klub yang darinya bisa diambil banyak masukan.”
— Cesc Fabregas
Ia juga mengenal Martin Demichelis secara pribadi, pernah menghadapinya saat pelatih Leipzig itu masih bermain untuk Manchester City, dan menyebut dirinya tidak bisa berbuat lain selain mengagumi serta memberi selamat. Yang ia minta dari malam ini cuma satu, apa pun yang terjadi, timnya tetap terlihat sebagai Como.