Fabregas Sesalkan Tak Semua Pemain Como Bisa Ikut Malam Bersejarah

UEFA Champions League

Fabregas Sesalkan Tak Semua Pemain Como Bisa Ikut Malam Bersejarah

Semua ikut mengejar tiket ini bersama-sama, tapi daftar UEFA hanya memuat sebagian nama

Ada satu bagian dari konferensi pers Cesc Fabregas yang nadanya berbeda dari sisanya. Sepanjang sesi ia berusaha memperlakukan debut Liga Champions Como sebagai laga biasa, tapi ketika bicara soal siapa yang bisa ikut, ia berhenti bersikap dingin.

“Kami menaklukkan pencapaian ini bersama-sama dengan susah payah, semua pemain layak bermain melawan Leipzig. Yang turun ke lapangan cuma sebelas orang, lalu ada pergantian, dan harus dipertimbangkan juga daftar yang sudah didaftarkan. Sebagian akan tinggal di luar dan saya menyesalkannya, buat banyak orang akan ada kesempatan di laga-laga berikutnya.”

— Cesc Fabregas, Quotidiano Sport

Perjalanan yang ia maksud tidak panjang dalam hitungan tahun, tapi sangat curam. Como kembali ke Serie A setelah 21 tahun, dan musim ini mereka membuka kompetisi dengan dua kemenangan atas Napoli dan Genoa yang sempat membawa mereka ke puncak klasemen. Sekarang stadion Sinigaglia yang baru direnovasi menggelar malam Eropa pertamanya.

Fabregas menempatkan malam ini sebagai hari pembuktian, bukan hari perayaan.

“Musim lalu kami mengejar hasil ini, sekarang tiba harinya menunjukkan perjalanan kami, keinginan kami untuk membaik setiap hari. Kami siap, ada banyak pemain yang akan menjalani debut di kompetisi ini. Kami akan bermain melawan tim besar, levelnya akan sangat tinggi, di Liga Champions setiap kesalahan sekecil apa pun, entah pada satu umpan atau posisi, langsung Anda bayar.”

— Cesc Fabregas

Dari situ muncul kalimat yang paling banyak dikutip malam itu, cara Fabregas menjelaskan bagaimana tim seperti Como seharusnya memandang peluangnya sendiri. Menurutnya, kalau kemungkinan menang cuma dua puluh persen, tugas mereka adalah mengubah angka itu menjadi seratus persen lewat kerja.

Pengalamannya sendiri sebagai pemain di kompetisi ini ia pakai bukan untuk menenangkan, melainkan untuk mengingatkan. Fabregas bilang yang paling ia pelajari adalah betapa cepatnya waktu berlalu, sampai ia hampir kesulitan mengingat laga Liga Champions terakhir yang ia jalani sendiri. Yang tersisa dari ingatan itu justru soal harga sebuah kesalahan di level ini, dan kesimpulannya adalah timnya harus membaca setiap momen laga dengan benar.

Lucas Da Cunha, yang mendampinginya, mengukur jarak yang sudah ditempuh klub ini dengan cara yang lebih personal.

“Sudah lewat tiga tahun, dan setiap tahun kami selalu berusaha memperbaiki diri, bermain semaksimal kemampuan kami. Kami melakukannya di Serie B, kami akan melakukannya besok. Besok kami kembali bermain di kandang setelah sekian lama, kami tidak boleh mengecewakan mereka, kami harus memberikan yang terbaik dari diri kami.”

— Lucas Da Cunha, Quotidiano Sport

Fabregas juga tidak menutupi bahwa kalender ikut menentukan pilihannya. Setelah Leipzig, Como menghadapi Parma lalu Frosinone, dan menurutnya liga tetap prioritas. Ini pertama kalinya timnya harus menjalani dua laga berlevel tinggi dalam waktu berdekatan, sesuatu yang belum pernah mereka biasakan.

Soal format baru Liga Champions, ia mengaku menyukainya karena memberi kesempatan bertemu tim-tim yang berbeda dan empat laga kandang. Ia bahkan menyebut sedang mengikuti pertandingan lain, termasuk Barcelona dan Napoli melawan Arsenal, sebagai bahan untuk membayangkan seperti apa kompetisi ini nantinya.

Berita lain dari laga ini