Dua nama paling banyak dibicarakan Andoni Iraola seusai Liverpool ditahan Nottingham Forest 2-2, dan alasannya berbeda jauh. Yang satu mencetak gol penyelamat, yang satu kehilangan golnya lewat keputusan VAR.
Victor Munoz jadi yang pertama. Gol kerasnya delapan menit menjelang bubaran menyelamatkan satu poin, dan itu kontribusi keduanya dalam dua laga setelah sebelumnya melahirkan penalti melawan Newcastle. Yang dipuji Iraola justru bukan kesempurnaannya.
“Menurut saya Victor sangat bagus di kedua laga. Saya suka bahwa kadang dia tidak mengambil keputusan terbaik, kadang membuat pelanggaran, dan tidak semuanya sempurna, tapi dia terus mencoba sepanjang waktu.”
— Andoni Iraola, Liverpool FC
Menurutnya, kemauan untuk mencoba lagi dan lagi adalah hal yang ia sukai dari seorang pemain sayap. Iraola menambahkan Munoz selalu jadi ancaman, dan secara bertahan pun banyak membantu timnya.
Cerita Florian Wirtz lebih pahit. Golnya di babak pertama dianulir VAR, dan menurut Iraola gol Forest sebelumnya sempat terlihat offside secara kasat mata sebelum ternyata ada tumit pemain yang membuatnya tetap sah. Ia menyebut seandainya gol Wirtz disahkan, skor jadi 1-1 di babak pertama dan posisi timnya jauh lebih baik untuk babak kedua.
Yang menarik, Iraola tidak berhenti pada nasib buruk itu. Ia menutupnya dengan pernyataan dukungan yang cukup gamblang soal peran pemainnya.
“Florian sangat bagus. Saya sangat percaya padanya. Saya rasa kami harus menemukan cara terbaik untuk memakainya. Menurut saya posisinya dari sisi saya cukup jelas, dan semakin banyak dia bermain bersama kami, saya rasa dia akan semakin baik.”
— Andoni Iraola
Soal rotasi di sektor sayap, Iraola menjelaskan pemainnya memang punya posisi favorit, tapi keputusannya selalu berangkat dari analisis duel di masing-masing sisi. Ia sempat menunda pergantian tiga sampai empat menit setelah gol penyama untuk melihat apakah momentumnya bisa berbuah gol kedua, sebelum akhirnya menarik Rio Ngumoha dan Munoz di menit-menit akhir.