Amorim Sebut Milan Menyulitkan Diri Sendiri saat Pegang Bola

UEFA Europa League

Amorim Sebut Milan Menyulitkan Diri Sendiri saat Pegang Bola

Pasca Europa League: Milan 0-2 Benfica

Laga pertama Milan di Liga Europa berakhir dengan siulan San Siro. Benfica menang 2-0 lewat gol Lukebakio pada menit ke-16 dan Kaminski pada menit ke-54, dan ini kekalahan pertama Milan musim ini. Ruben Amorim tidak mencari penjelasan di kubu lawan. Menurutnya masalah Milan justru lahir di kaki pemainnya sendiri, dan bukan saat bertahan.

“Kadang kami justru menciptakan lebih banyak masalah untuk diri sendiri saat memegang bola dibanding saat bola dipegang lawan. Kami sedang berusaha membangun pola yang otomatis, tapi kami tidak menciptakan peluang. Kami menguasai bola, tapi kurang kreativitas di dekat kotak penalti.”

— Ruben Amorim, Sky Sport via Milannews24

Menurut catatan Sky Sport, Milan belum mencetak satu gol pun di babak pertama musim ini. Malam itu pola yang sama berulang. Milan kebobolan lebih dulu, lalu kehilangan arah. Amorim mengaku belum tahu pasti akar masalahnya, tapi ia melihat polanya berulang dari Olimpico ke San Siro.

“Saya tidak tahu apakah ini soal mental. Ini laga kedua beruntun kami seperti tidak ada di lapangan pada babak pertama.”

— Ruben Amorim

Menurut Amorim, kebobolan terasa jauh lebih berat bagi tim yang sejak awal sudah kesulitan mencetak gol. Milan jadi gugup, dan setelah itu semuanya makin sulit. Di ruang konferensi pers ia menjabarkan lebih rinci apa yang terjadi sesudah gol pertama Benfica. Bukan cuma soal tenaga, katanya, tapi juga organisasi, kualitas mengalirkan bola, dan cara membaca momen dalam laga. Saat tertinggal, tim seharusnya menahan bola, bukan menyerbu ke depan tanpa perhitungan.

“Kami benar-benar panik begitu kebobolan gol pertama. Kami kehilangan identitas begitu tertinggal.”

— Ruben Amorim, Milannews24

Awal babak kedua sempat memberi harapan. Milan menekan Benfica ke kotak penaltinya dan Koni De Winter mendapat peluang. Gol kedua Benfica datang tak lama kemudian, dari transisi yang menurut Amorim terlalu lama dihentikan.

Soal lawan, Amorim tidak menawar. Ia menilai Benfica lebih nyaman dan lebih terorganisasi sepanjang laga, bahkan sering sengaja membiarkan Milan memegang bola karena tahu cara itu justru menyulitkan tuan rumah. Milan gagal membongkar pertahanan mereka, baik lewat lari ke belakang lini belakang maupun lewat pergerakan tanpa bola.

“Menurut saya Benfica tim yang lebih baik.”

— Ruben Amorim

Ditanya apakah ia khawatir, jawabannya tidak berbelit. Amorim, yang sebelum Milan melatih Manchester United, bilang tekanan di klub sebesar ini bukan hal baru baginya. Ia juga menegaskan rasa khawatir itu tidak cuma muncul setelah kekalahan, tapi juga setelah kemenangan yang diraih dengan bermain buruk.

“Tentu saya selalu khawatir.”

— Ruben Amorim

Koni De Winter, yang juga hadir di ruang konferensi pers, membaca masalah yang sama dari dalam lapangan. Bek Milan itu menyebut timnya terlalu mudah kehilangan bola, lalu kehilangan kepercayaan diri setelah Benfica unggul cepat dan menumpuk pemain di belakang.

“Kami percaya pada ide pelatih, tapi kami butuh lebih sabar ketika keadaan tidak berjalan lancar. Tidak perlu marah-marah. Kami semua memang marah karena kalah, tapi ini masih awal musim.”

— Koni De Winter, MilanNews.it

Amorim menutup dengan kalimat yang dua kali ia ucapkan malam itu, bahwa hasil ini tidak bisa diubah dan yang masih bisa diubah adalah laga berikutnya. Milan menjamu Lecce di Serie A pada Minggu (20/9).

Berita lain dari laga ini