Di balik kemenangan 1-0 Juventus atas Frosinone, satu nama justru menjadi sasaran kritik terbuka Luciano Spalletti, yaitu Randal Kolo Muani. Penyerang itu membuang peluang matang di babak pertama, dan sang pelatih tak menyembunyikan kekecewaannya dengan pernyataan yang cukup tajam usai laga.
“Kami mendatangkannya, kami memanjakannya, dan kami tahu kualitasnya, tapi dia harus sadar bahwa dia belum (pernah) bermain (rutin) selama dua tahun, dan pasti ada alasannya.”
— Luciano Spalletti, Get Italian Football News
Meski keras, Spalletti tetap mengakui kualitas dan potensi sang pemain. Ia menegaskan Kolo Muani punya kelebihan teknis dan fisik yang jelas, tetapi menuntutnya lebih tajam dalam menyelesaikan peluang di laga-laga penting.
“Kadang kamu merasa sudah berada di level tertinggi, padahal ada hal yang terlupakan dan harus kamu kejar lagi. Kolo tahu cara menjaga bola, masuk ke ruang, dan secara fisik kuat, tapi hari ini adalah laga-laga di mana kami membutuhkan dia mencetak gol.”
— Luciano Spalletti
Kritik semacam ini menegaskan standar tinggi yang dipatok Spalletti sejak laga pertamanya. Alih-alih menutupi kekurangan dengan euforia kemenangan, ia memilih menyampaikan pesan langsung kepada pemainnya, bahwa kualitas saja tidak cukup tanpa produktivitas. Bagi Kolo Muani, ini menjadi tantangan awal untuk membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan klub tidak salah tempat.
Nada Spalletti juga bisa dibaca sebagai bentuk motivasi, bukan sekadar hukuman. Dengan mengingatkan bahwa sang penyerang sempat lama absen dari lapangan, ia seakan menuntut Kolo Muani menyadari posisinya dan bekerja lebih keras untuk kembali ke level terbaik. Bagi seorang pelatih yang dikenal telaten membangun pemain, kritik terbuka semacam itu kerap menjadi cara menaikkan standar sejak dini.
Yang jelas, sorotan tajam kepada Kolo Muani menjadi salah satu catatan utama dari laga pembuka Juventus. Di tengah hasil positif berupa kemenangan tanpa kebobolan, Spalletti justru memilih menonjolkan area yang menurutnya harus segera dibenahi, sebuah sinyal bahwa ia tak akan cepat berpuas diri meski timnya menang.