Pio Esposito jadi salah satu nama yang paling sering ditanyakan ke Cristian Chivu belakangan ini, dan pada 28 Agustus pelatih Inter itu membicarakannya di dua wawancara berbeda pada hari yang sama. Nada keduanya sama, dan bukan nada memuji-muji.
Kepada Sky Sport, nasihatnya justru berbentuk peringatan.
“Dia tidak boleh punya obsesi mencari pengakuan orang lain, dia berisiko kehilangan tujuannya sendiri, yaitu berkembang. Dia punya banyak ruang untuk tumbuh, dia tidak berutang apa pun kepada siapa pun karena dia bagus dalam hal kerendahan hati, dalam budaya kerja, dan dalam memperbaiki grup serta dirinya sendiri.”
— Cristian Chivu, FcInterNews
Kalimat itu terasa ditujukan bukan hanya ke pemainnya. Frasa tidak berutang apa pun kepada siapa pun jelas menjawab tekanan dari luar, dan dari seorang pelatih yang menyerahkan menit bermain kepada penyerang muda, itu praktis sebuah pagar.
Yang menarik, daftar kelebihan yang ia sebut sama sekali tidak menyinggung gol, tembakan, atau pergerakan. Semuanya soal sikap, yaitu kerendahan hati, budaya kerja, dan kemampuan menaikkan level orang-orang di sekitarnya.
Ketika membicarakan pemain yang sama kepada Sportmediaset, ia memakai kerangka yang serupa. Di sana Esposito muncul sebagai contoh dari prinsipnya bahwa tidak ada tempat yang permanen di dalam tim.
“Kami tidak punya pemain inti yang tetap, tidak ada posisi tetap di sepak bola. Yang kami pedulikan adalah level daya saing, individu yang menyerahkan karakteristiknya untuk kepentingan grup. Esposito? Pio penting buat kami karena caranya berada di dalam grup, karena caranya berlatih, dan karena caranya menaikkan level rekan-rekan seposisinya.”
— Cristian Chivu
Dua jawaban itu saling mengunci. Chivu menolak menjadikan Esposito bahan perdebatan publik soal layak atau tidak layak, lalu menempatkan nilainya pada sesuatu yang tidak bisa dibantah statistik, yaitu pengaruhnya terhadap orang lain di ruang ganti.
Cara itu juga menjelaskan kenapa ia tidak pernah menjanjikan tempat utama untuk pemainnya. Bagi Chivu, memberi jaminan justru bertentangan dengan hal yang ia sebut sebagai satu-satunya ukuran, yaitu level daya saing yang harus dipertahankan sepanjang musim.
Kesempatan berikutnya datang di Unipol Domus, ketika Inter bertandang ke Cagliari pada giornata kedua Serie A.