Sebelum bola bergulir di Stadio Diego Armando Maradona, Cesc Fabregas dan Massimiliano Allegri berpelukan di pinggir lapangan. Adegan itu punya bobotnya sendiri, mengingat keributan di antara keduanya musim lalu yang sempat jadi tontonan. Ditanya soal itu seusai Como menang 2-1, Fabregas tidak berusaha memoles ceritanya.
“Allegri? Setiap kali ada apa-apa, kami sama-sama tidak mau mengalah karena harga diri. Dia besar di dunia sepak bola, saya masih kurang pengalaman dan mencoba belajar.”
— Cesc Fabregas, Napoli Magazine
Yang jarang terdengar dari seorang pelatih di ruang wawancara pasca-laga adalah pengakuan tanpa syarat, dan itu yang ia berikan.
“Saya salah waktu itu, tapi hidup terus berjalan dan kita harus memahami dalam konteks apa hal itu terjadi.”
— Cesc Fabregas
Perbedaan pengalaman itu yang berulang kali ia tekankan. Allegri sudah mengangkat trofi di hampir setiap tempat yang ia singgahi, sementara Fabregas baru menjalani musim-musim pertamanya sebagai pelatih kepala setelah membawa Como naik dari Serie B. Dalam kerangka itu, keributan musim lalu ia tempatkan sebagai kesalahan orang yang masih belajar, bukan sebagai permusuhan yang perlu dipelihara.
Ia lalu menutupnya dengan menyebut apa yang sudah terjadi di antara mereka berdua sore itu, sebelum dan sesudah pertandingan yang justru dimenangi timnya.
“Kami berjabat tangan dan kali ini pun kami saling menyapa. Ada rasa hormat yang besar dan ia seorang pemenang sejak lahir.”
— Cesc Fabregas
Ada satu hal lagi yang menyatukan dua pelatih itu sore kemarin, dan sifatnya jauh lebih sepele. Laga digelar dalam cuaca panas yang membuat tempo pertandingan turun jauh, sesuatu yang menurut Fabregas terasa sampai ke pinggir lapangan.
“Panasnya? Saya tidak habis pikir bagaimana para pemain masih sanggup bermain, saya dan Allegri sudah seperti di sauna.”
— Cesc Fabregas
Tempo laga memang turun jauh di babak kedua, dan sebagian dari cara Como bertahan sore itu lahir dari kondisi tersebut. Menahan bola dan mengatur irama jadi pilihan yang lebih masuk akal ketimbang berlari mengejar, sesuatu yang sudah ia sebut sebagai rencananya sejak sebelum laga.
Ia pun memakai kesempatan itu untuk berterima kasih kepada kedua tim, bukan cuma timnya sendiri, atas laga yang tetap berjalan dengan tempo tinggi di kondisi seperti itu.
“Kita harus menempatkan anak-anak dalam kondisi yang layak, kita manusia, dan saya berterima kasih kepada kedua tim untuk penampilan ini.”
— Cesc Fabregas