Como menang 2-1 atas Parma di Stadio Giuseppe Sinigaglia, Senin (14/9), dalam laga Serie A pertama mereka sejak debut di Liga Champions. Kedua gol Como dicetak bek. Jacobo Ramon membuka skor di menit 23 lewat situasi tendangan sudut, dan Bruno Kaiki, yang baru pertama kali jadi starter, menambah gol di menit 83 dari kemelut di depan gawang. Parma hanya membalas lewat David Romero di masa injury time.
Como mendominasi babak pertama, tapi kehilangan intensitas setelah jeda. Parma sempat membentur tiang lewat Romero sebelum Kaiki memastikan kemenangan. Hasil ini membawa Como ke 10 poin, sama dengan Lazio.
Bagi Cesc Fabregas, laga ini lebih dari sekadar tiga poin. Ia ingin melihat bagaimana pemainnya bereaksi setelah pekan yang menguras emosi dan tenaga.
“Laga melawan Parma sangat penting bagi kami dan bagi saya sebagai pelatih. Mungkin malah lebih penting bagi saya, untuk memahami apa yang terjadi di kepala mereka, bahkan setelah menang di Liga Champions. Untuk melihat siapa yang sanggup, siapa yang tidak.”
— Cesc Fabregas, Corriere dello Sport
Pelajaran terbesarnya, kata Fabregas, adalah pentingnya menuntaskan laga saat masih punya kesempatan.
“Kalau laga tidak dikunci, saat energi menipis, kita kehilangan poin. Saya yakin soal itu.”
— Cesc Fabregas
Fabregas melakukan lima pergantian, termasuk memasukkan Maxence Caqueret, Jesus Rodriguez, dan Anastasios Douvikas. Menurutnya para pemain pengganti menjawab kepercayaan itu dengan baik, dan hal tersebut membuka jalan untuk rotasi yang lebih sering ke depan.
“Saya lebih percaya pada mereka. Ke depan bisa ada lebih banyak rotasi, dan itu memang harus terjadi untuk memenangi laga-laga tertentu.”
— Cesc Fabregas
Meski begitu, ia tidak menutupi bahwa Como sempat kerepotan. Timnya melepas banyak tembakan tapi lama hanya unggul satu gol, sehingga Parma punya ruang untuk menekan.
“Kalau kami tidak tampil seperti di 45 menit pertama itu, hari ini kami bisa saja kalah. Saya suka tim ini, meski belum sempurna. Ini bukan kemenangan yang remeh, tapi kemenangan yang diperjuangkan dan penting.”
— Cesc Fabregas
Gol dari dua bek juga ia sambut sebagai senjata tambahan. Fabregas mencontohkan Arsenal, dan menyebut Ramon maupun Kaiki sebenarnya masih punya peluang lain untuk menambah gol.
“Di sepak bola modern, tim yang ingin terbang tinggi sangat perlu punya bek yang mencetak gol. Arsenal juara Premier League lewat gol bola mati dan gol para bek.”
— Cesc Fabregas
Soal lini depan, Fabregas meminta Moise Kean bekerja keras seperti pemain lain. Ia juga menyebut Douvikas bukan lagi pemain yang sama dengan setahun setengah lalu, karena kini beradaptasi dengan tuntutan bertahan yang berbeda di Como. Keduanya, katanya, sama-sama membuatnya puas.
“Saya senang dengan dua penyerang ini.”
— Cesc Fabregas
Ia juga menyinggung Yan Couto, yang menurutnya masih berkembang karena harus beradaptasi dari bertahan dengan lima bek menjadi empat bek, dan dari menyerang di posisi tinggi menjadi lebih ke bawah.